Kamis, 17 Agustus 2017

APAKAH SEPERTI MER(D)EKA?


Oleh : Sri Astuti (Staf Biro Al-Qolam)
Editor : Marie Indah Alfinnur (Sekretaris Biro Al-Qolam)


APAKAH SEPERTI MER(D)EKA?

Merdeka!!!!
Perjuangan yang bertaruh dengan nyawa
Bayangan kematian yang selalu mengikuti
Rasa was-was yang selalu datang

Beristirahat hanya beralaskan seadanya
Kelaparan terjadi dimana-mana
Menuntut ilmu dengan perasaan cemas 
Kehidupan hanya bisa merasakan ketakutan dan rasa berharap

Peluru berterbangan yang selalu mengancam…..
Jeritan yang terdengar hanyalah ketakutan
Jantung berdetak secepat kilat setiap saat….
Ketakutan yang menjadi teman setia mereka

Merdeka bukan berarti berhenti berjuang
Tetapi merdeka adalah awal untuk berjuang
Berjuang menerjang arus kehidupan
Berjuang untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia

Kita terlalu sombong hingga lupa dengan itu semua
Tak pernah bersyukur kepada Tuhan akan kehidupan ini
Lantas………………….
Lupa akan perjuangan pahlawan kita
Yang siap mati demi masa depan kita

Apakah itu balasan kita?
Mulailah bersyukur dengan apa yang kita dapatkan
Kembangkanlah kemampuanmu dan mengabdilah kepada negara
Buktikan kepada para pahlawan kita
 Bahwa kita bisa menjaga Negeri ini!!!!!


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
#As-Salam_28
#Al-Fatih_Generation
#JemputHidayahdenganDakwah

check and follow us on:
๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡
๐ŸฃTwitter : Assalam_trilogi
๐Ÿ“ฑFb : Ldk As-salam
๐Ÿ“ทIg : ldk_assalam
๐Ÿ…ฟPath : Ldk Assalam
๐Ÿ“ฎWebsite : ldkassalamtrilogi.blogspot.co.id

Minggu, 30 Juli 2017

UAS = Untuk Allah Saja



Oleh : Siti Nur Sa'adah (Ketua Biro Al-Qolam)

Editor : Marie Indah Alfinnur (Sekretaris Biro Al-Qolam)
#As-Salam 28
#AL-Fatih Generation 
#JemputHidayahdenganDakwah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..

Cerita ini sebenernya goresan pena pertama yang Aku buat hehe...
            So guys, this story will describe you all who ask me “Kenapa lu bisa, padahal di kelas lu sering tidur?” atau “Cara belajar lu gimana dah?” atau “Dirumah lu pasti sering ngulang pelajaran ya?” aaaaaaand etcetera wkwkwk, masih banyak pertanyaan konyol lainnya yang terkadang membuat diri ini sulit untuk menjawabnya, azeeeeeek.

            Ok, sebenarnya moment nya lagi tepat nih. Jadi pekan ini tuh di kampusku sudah memasuki akhir semester. Yaaa teman-teman pasti tahu kan di akhir semester itu ada apa? Ya ya yaa, bisa jadi bisa jadi, ya yaaa, tepat sekali.... Hehe, apaan dah... Betul, di akhir semester itu kita pasti menghadapi yang namanya ujian. UJIAN??? Ujian buat seleksi calon menantu? Hehehe, ya enggak lah. Kalau bahasa ngetrend nya mah UAS (Ujian Akhir Semester), ehhh memang itu deng namanya. #abaikan

            Mendengar kabar UAS, sebagian besar mahasiswa mulai rajin masuk pada pertemuan kuliah terakhir demi mendapatkan kisi-kisi dari dosen. Benar kan? Hehehe, akupun melakukan hal demikian. Sepekan sebelum UAS, kita meminta kepada orang tua agar biaya semesternya dilunasi lantaran khawatir tidak bisa mengikuti UAS. Banyak di antara kita yang menyibukkan waktu untuk belajar bersama teman-teman seperjuangan, seper-bangkuan, seper-kerja kelompokan, seper-tempat jajanan, dan seper-seper lainnya yang tentu di antaranya ada yang bisa kita andalkan untuk menguasai materi.

            Hmmmm, mungkin yang kusebutkan di atas belum seluruhnya. Masih banyak kegiatan-kegiatan kita yang lainnya yang pada hari-hari biasanya jarang kita lakukan justru kita lakukan ketika moment menjelang UAS ini. Lebih mengejutkannya lagi, kita mulai rajin meminta sama Yang Maha Berilmu. Setiap sholat, setiap waktu luang kita, kita sempatkan untuk berdo’a, memohon kepada-Nya agar kita bisa berhasil menjalankan UAS, mendapat nilai bagus, mendapat IPK cumlaude.

            Sejujurnya, Aku sendiri masih belum bisa mengerti, kenapa momentum-momentum yang seperti ini yang bisa membuat seorang hamba bisa menghadirkan Allah dalam dirinya? Kenapa momentum seperti ini yang membuat seorang hamba lebih giat dalam berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik yang diinginkannya? Kenapa harus momentum ini juga yang bisa menggerakkan niat seorang untuk terbangun di sepertiga malam untuk memohonkan hajat atau sesuatu yang diinginkannya?

            Oooooops, sepertinya terlalu panjang basa-basinya. Back to the topic. UAS memang merupakan momentum puncak bagi seorang mahasiswa untuk menguji hasil dari pembelajaran mereka selama perkuliahan. Semua hal yang baik kita lakukan untuk memperoleh hasil yang baik pula. Tak heran, dalam hal ibadah pun rasanya mengalami peningkatan cukup signifikan.

            Tapi, bagiku UAS ini sama saja seperti ujian-ujian lainnya yang Allah turunkan kepada kita dalam rangka meningkatkan derajat kita di hadapan-Nya. Finally, that’s the reason why I titled this story with the title UAS = Untuk Allah Saja”.

            Semua yang kita lakukan, ya tentunya kita tujukan hanya untuk Allah. Baik ketika kita senang, atau sedang mendapat ujian sekalipun, semuanya kita serahkan untuk Allah. Terkadang ada manusia yang berfikir, jikalau kebahagiaan itu ia dapat atas hasil usahanya sendiri, but ketika kita susah, pikiran kita mengatakan bahwasanya ini ujian dari Yang Maha Kuasa. Heloooo, mau kita seneng kek, susah kek kita tidak boleh lupa bahwa semuanya itu ada campur tangan dari Allah.

            Then, kita tahu bahwa Allah akan mengabulkan do’a hamba-Nya yang tulus disertai usahanya yang gigih agar Allah mau membantunya untuk mencapai keinginannya. Maka, tidaklah salah kalau kita terus meminta untuk mendapatkan hasil yang terbaik ketika UAS nanti. Yang salah itu adalah, kita mau meminta, mengadu, memohon, dan mendekatkan diri kepada Allah itu secara musiman. Musim UAS, musim sakit, musim ujian, dan musim-musim “buruk” lainnya yang membuat kita berdo’a lebih sering dibanding hari-hari biasanya.

 Buat Allah mah...
-         ­Gak perlu nunggu diuji baru kita meminta
-         Gak perlu nunggu sakit baru kita memohon kesehatan
-         Gak perlu nunggu sulit baru kita mengharap kemudahan
-         Gak perlu nunggu sakarotul maut baru kita memohon untuk dibukakan pintu taubat.
            Allah itu Super Baik... Bayangkan saja, keluarga sebaik apapun, kerabat sebaik apapun, bahkan sahabat sebaik apapun yang baiknya melebihi keluarga kita sendiri, pasti akan merasa bosan jika terus-terusan kita pinta, kita mohonkan untuk dituruti segala keinginan kita. Kalau mereka mulai bosan memenuhi permitaan kita, jangan heran kalau sebentar lagi mereka pasti menjauhi kita.
            Berbeda halnya dengan Allah. Allah senang dipinta... Semakin banyak permintaan seorang hamba, semakin sayang Allah kepadanya. Semakin sering kita menyempatkan waktu untuk-Nya, semakin sering Allah menjamah kita, semakin besar kemungkinan bahwa Allah semakin dekat dengan kita.

            Abu Hurairah ra., berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabia ia mengingat-Ku dalam suatu jema’ah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluq yang lebih baik dari mereka. Apabila ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan  berlari.” (Hadits shahih riwayat Imam Muslim No. 4832)

Jadi teman-teman, sudah jelas kan kenapa UAS pun harus untuk Allah saja?
Ok, disini aku share sedikit mengenai tips-tips yang bisa teman-teman lakukan saat menjelang UAS ataupun ketika UAS:
1. NIAT karena Allah. Kembali lagi, UAS kita disini adalah Untuk Allah Saja
2. Makan-makanan yang bergizi dan bernutrisi tinggi. Kurang-kurangin makan mie atau makanan lain yang mengandung kadar MSG yang cukup tinggi (read: MSG = Mecin).
3. Berdo’a dan meminta untuk diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menjawab semua butiran soal.
4. Berusaha dengan cara belajar atau mengulang pembelajaran sebisa mungkin, sampai kita bisa menilai bahwa usaha yang kita lakukan tersebut merupakan usaha yang paling maksimal. Tapi, jangan SKS loooh (read: Sistem Kebut Semalam). Kalau sering-sering SKS nantinya jadi SKS juga (Sering Kantuk Seharian) :D
 
......Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri.....” (QS. Ar-Ra’d {13}: 11)
5. Siapkan tameng untuk menghalau godaan teman-teman sekitar yang mengajak kita untuk berlaku curang ketika ujian nanti. PD aja brohhh!!! Dengan kita percaya diri, berarti kita juga percaya sama janji Allah:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.....” (QS. Al-Baqarah {2}: 286)
6. Berusaha tawakal ketika kita sudah mengerjakan semua soal semaksimal mungkin, dan ketika kaki kita mulai melangkah meninggalkan ruangan ujian.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh {94}: 6)

Finally, mungkin oret-oretan semacam ini sudah banyak disebar di media sosial lainnya, yang tentunya lebih menarik, lebih keren, lebih menyentuh hati pembacanya. But, through this story I can invite you to feel a sensation of final EXAM like I feel, LOL.
“Lu mau bisa, sertakan Allah!”
“Lu gak paham sama materinya, minta tolong sama Allah!”
“Lu mau tau resepnya? Hadirkan nama Allah dalam keadaan apapun, kapanpun, dan dimanapun!”
Intinya, bagaimanapun bentuk ujiannya, ringan atau berat sekalipun harus kita hadapi dengan menyertakan Allah di setiap tindakan kita. Pokoknya mah “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.................”

SEMANGAT MENJALANKAN UAS SAUDARA-SAUDARIKU!!!
I believe WE CAN DO IT, because ALLAH ALWAYS WITH US !!!
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh...

#SemangatUas
#UASukses
#UntukAllahSaja

Sabtu, 15 Juli 2017

KOPERASI SYARIAH

Oleh : Marie Indah Alfinnur dan Nur Fitriyani Barokah (Sekretaris dan Staf Biro Al-Qolam LDK As-Salam 2017)
Departemen As-Salam Charity
#LDK As-Salam
#As-Salam 28
#Al-Fatih Generation
#JemputHidayahdenganDakwah
Assalamua’laykum warrahmatullahi wabarakatuh.
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Illahi Rabbi yang telah memberikan segala kenikmatan yang tak terhingga selama kita masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Sholawat serta salam kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan semoga kita menjadi salah satu umat-Nya.
Tak terasa Bulan Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Hari yang Fitri pun hanya datang sekilas untuk menyambut dan menghiasi di hari kemenangan kita. Kini lembaran baru pun telah kita buka dan siap menjadi bagian dan hal–hal terbaik dalam diary kita.
Apa kabar  nih semuanya? Semoga Allah selalu melindungi dan memberkahi kita ke jalanNya. Ya, Alhamdulillah masih bisa nulis blog lagi yang udah satu abad kita sempet tertunda, *canda hehe. Hari ini kita akan sedikit membahas mengenai Koperasi Islamiyah.  Lho? Kok koperasi? Bukannya abis lebaran ngebahas  tentang Idul Fitri sih?  hehe tenang kok nanti akan bahas mengenai Koperasi Syariah di bawah ini yaaa.
Ada sebuah Hadits yang menyatakan Dari Sa’id bin Zaiddari Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya riba yang paling buruk adalah merusak kehormatan seorang muslim tanpa hak, dan sesungguhnya rahim dijalinkan oleh Ar Rahman, barang siapa yang memutuskannya niscaya Allah mengharamkan baginya syurga” (Ahmad, babMusnad Said bin Zaid, no 1564).
Tak terasa Bulan Syawal pun telah berada di tengah–tengah kita. Siap menjadi salah satu bulan terbaik dari semua bulan yang ada. Menemani dan menghiasi dengan event-event yang ada di Bulan Syawal. Kemarin, 12 Juli merupakan Hari Koperasi. Koperasi merupakan lembaga pemerintah yang bertujuan untuk membantuk halayak banyak dalam menjalankan usaha perekonomian mereka. Namun, bagaimana pandangan Islam tentang koperasi tersebut?
Namun, kini telah banyak koperasi yang telah menerapkan syariat Islam. Seperti kita tahu bahwa koperasi syariah merupakan salah satu badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan berdasarkan prinsip syariah sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas kekeluargaan. Hal ini beroperasinya lembaga keuangan yang berdasarkan prinsip syariat Islam diharapkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap terwujudnya sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang terjadi setelah prinsip ekonomi yang menjadi pedoman kerjanya dipengaruhi atau dibatasi oleh ajaran Islam. Sehingga sistem ekonomi Islam bukanlah suatu pemikiran yang bersifat final melainkan terus berkembang melalui kerja ijtihad.
Baitul Maal wat Tamwil (BMT) merupakan lembaga ekonomi Islam yang dibangun berbasis keumatan, sebab dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat. Dari segi jumlah, BMT pun merupakan lembaga keuangan syariah yang paling banyak apabila dibandingkan dengan lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya. Kehadiran BMT di Indonesia, selain ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di bidang ekonomi, juga memiliki misi penting dalam pemberdayaan usaha kecil dan menengah di wilayah kerjanya. Hal ini didasarkan pada visi BMT bahwa pembangunan ekonomi hendaknya dibangun dari bawah melalui kemitraan usaha.
Berdasarkan kesesuaian prinsip koperasi dalam Islam dan hukum kebolehan koperasi dalam Islam, maka koperasi adalah sebuah lembaga yang dapat diterapkan untuk BMT. Kebolehan ini juga didasarkan pada relevansi konsep antara koperasi dan BMT. Terdapat kesamaan konsep antara koperasi dan BMT sehingga hal ini mendukung dijadikannya koperasi sebagai badan hukum untuk BMT. BMT yang berbadan hukum koperasi harus mengganti sistem bunga yang biasa diterapkan dalam sistem perkoperasian di Indonesia dengan sistem yang sesuai dengan prinsip Islam yaitu bagi hasil, sehingga merancang sebuah konsep lembaga koperasi syariah adalah suatu kebutuhan yang harus dilakukan.

Semoga kita semua dapat mempelajari dan menerapkan secara perlahan-lahan demi ekonomi Islam yang lebih baik, aamiin. Mohon maaf lahir dan batin dari segala kesalahan. Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarokatuh 

Sabtu, 01 April 2017

RINDU YANG TERPENDAM


Oleh : Mariyah Nailatil Firdausah (Anggota Biro As-Salam Charity)
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam, Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
#As-Salam 28
#AL-Fatih Generation
#JemputHidayahdenganDakwah

Hai bidadariku. Bagaimana kabarmu?
Apakah kau tahu?
Aku sedang tidak baik-baik saja, karena aku sangat merindukanmu
Rindu belaian halusmu
Rindu dekapanmu
Rindu tawamu
Rindu aromamu
Rindu berada di dekatmu

Aku sangat ketakutan disini
Takut karena aku tak berada di dekatmu untuk menjagamu
Ingin sekali aku memutuskan jarak yang membentang diantara kita
Agar aku bisa terus berada di sampingmu, menjagamu
Hingga sebuah mikroorganismepun tak mampu menyentuhmu

Bidadariku …
Jangan sekalipun kau mengeluarkan sebutir mutiara dari mata indahmu
Meski aku tak bisa melihatnya, tapi aku mampu merasakannya
Sangat sakit rasanya jika kau melakukan itu
Terlebih jika alasanmu tersedu-sedu adalah aku

Jangan mengkhawatirkanku wahai bidadariku
Aku pasti bisa menerjang semua karang
Bak ombak di lautan yang membentang
Aku akan terus berdiri kokoh
Bak gunung yang tinggi menjulang

Jadi jangan bersedih bidadariku
Disini, aku akan selalu mentransfer energi kebahagiaan lewat Allah untukmu
Karena aku sangat menyayangimu
Ibu….


Teruntuk bidadari surga
Yang dibawah telapak kakinya terdapat pintu surgaku




-annajmatuzzarqa’

Aku Lupa Caranya Bersyukur



Oleh : Shavira Noer Shanaz (Bendahara Departemen PSDM)
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam, Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
#As-Salam 28
#AL-Fatih Generation
#JemputHidayahdenganDakwah

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Bismillah.

Aku lupa caranya bersyukur. Aku lupa caranya memandang dunia. Aku lupa caranya melihat awan biru itu.


Sore itu aku baru pulang dari sekolah, naik ojek langgananku, Pak Yono. Aku mengetuk pintu rumah, Mbok Inah yang membukanya. Saat aku masuk, terdengar teriakan yang sangat keras, aku tahu itu adalah suara Papaku.

“Sepertinya mereka berantem lagi. Ngga cape apa ya, buang-buang tenaga gitu” ucapku dalam hati.

Aku masuk ke kamar, dan langsung menyetel mp3 hadiah dari Papaku, warnanya putih dengan garis-garis hitam, sangat klasik, dan aku menyukainya.

            “Mbooookkkkk, embooookkkk” aku berteriak dari dalam kamar.

            “Ada apa Neng?” mbok masuk kamar tergesa-gesa.

            “Hari ini Mama masak apa Mbok?”

            “Nggg, Ibu baru saja pergi Neng, Ibu juga ‘ndak masak Neng”

            “Yaudah makasih Mbok”

            “Ya Tuhaann, sampe kapan gue mau idup kaya begini…….” Kutukku dalam hati.

Gue ganti baju, langsung ambil tas, mesen Go-jek, dan nunggu di depan rumah. Sambil nge-chat di grup buat jalan-jalan, nyari makan atau ngapain kek, di rumah malah ngebuat gue semakin pasrah jalanin hidup. Seengganya gue butuh udara untuk ngelanjutin hidup gue. Gue bukan tipe orang yang kalo ada masalah bakalan pergi ke club-club atau bar-bar gitu, yang dengerin musik super kenceng trus berharap lo bakalan lupa semua masalah di hidup lo, eughh not my type. Gue juga bukan tipe orang yang mendramatisir keadaan, yang suka mengharap belas kasihan dan juga perhatian dari temen-temen lo atau lo cari pacar dan berkeyakinan seengganya ada satu orang yang menyayangi lo apa adanya, iya pacar lo itu, cihhh jijik gue yang ada. Gue adalah tipe orang yang realistis, gue ngejalanin hidup seperti apa yang gue jalanin sekarang, kalo gue laper, ya gue nyari makan, kalo gue ngantuk, ya gue tidur.

Temen gue ngga banyak, Cuma ada 3-4 orang itu juga yang bener-bener deket, sisanya? Cuma say ‘Hi’ doang. Ngga lama Gojek pesenan gue dateng, gue langsung naik begitu dikasih masker sama helm. Pas sampe di kafe tempat gue ngumpul sama anak-anak, udah jam setengah 5an. Gue langsung masuk kafe dan anak-anak juga udah pada ngumpul, Cuma ada Risa, Anna sama Andri.

            “Yang lain pada kemana? Tanya gue pas duduk.

            “Lo ga liat grup emang? Andri bertanya.

            “Ngga, tadi males buka hape di Goj-ek” gue menjelaskan.

            “Vanny mager ta, Riko pergi tau kemana” kata Risa.

            “Oooh”

            “Lo pasti mau makan ya Ta?” tanya Anna.

            “Iya, laper, lo udah pada makan di rumah?”

            “Belomlah Ta, gue juga feeling kali kalo lo ngajak kesini pasti mau makan. Emang nyokap lo kemana lagi sih Ta?” Andri kepo.

            “Biasalah, ngga masak, tadi pergi juga”

            “Abis debat lagi sama bokap lo?” Risa yang kepo.

            “Yoi” gue jawab seadanya.

Gue manggil waitress, dan gue lagi pengen makan nasi, gue mesen nasi kari soto + bola-bola daging goreng renyah, minumnya I tawar dua gelas. Mba waitress bilang, pesenan gue akan sampai ke meja gue lima belas menit lagi. Gue lihat jendela di kafe itu, dan hujan gerimis mulai turun membasahi dinding kaca itu. Jam tangan gue menunjukkan jam 5.05 pm.

            “Gue mau solat dulu”

            “Ta? Tumben lo?” kata Risa kaget.

            “Kemajuan hebat Ta, kereeen” Anna malah tepuk tangan.

            “Hush, orang mau solat malah digituin” Andri ngomong gitu.

            “Gatau Ris, Na, Ndri, gue lagi pengen solat aja, masih ada waktu Ashar ini kan” gue ngejelasin dengan tampang abu-abu.

            “Iya oke Ta” jawab Andri.

Gue ke arah mushollah dan tempat wudhu wanita. Gue solat dan berdoa, mencurahkan segala yang ada di hati ini. Supaya nanti gue lega setelahnya. Gue selesai solat dan siap-siap keluar lalu pake sandal, sampai gue menoleh ketika nama gue dipanggil sama seseorang yang suaranya ngga begitu asing di telinga gue.

            “Talitha?”

            “Iya…” gue menoleh ke belakang ke arah sumber suara.
            “Fajar?” gue kaget seketika.

Semua bayangan saat kecil dulu kembali terputar di kepala gue. Iya, Fajar, temen kecil gue dulu, rumah kita sebelahan sampai akhirnya dia dan kedua orang tuanya pindah rumah. Gue dulu sering banget dititipin ke rumah sama Mama, iya karna Mama sama Papa gamau kalo gue ngedenger pertengkaran mereka. Fajar juga udah tau kalo Mama Papa gue sering berantem.

            “Lo ngapain disini Ta?” Tanya Fajar
           
            “Ngg… biasa makan sama ngumpul doang. Lo kok bisa kesini?” Tanya gue penasaran

            “Iya… lagi main aja, lagian kangen kali sama daerah disini. Ngga nyangka gue ketemu lo, tadi lo abis solat?” Tanya Fajar bingung

            “Iya Jar, lo juga abis solat?” Tanya gue

            “Iya tadi gue liat jam udah jam 5 lewat, dan gue belom solat Ashar, jadi gue solat disini hehe”

            “Oooh” gue bingung mau jawab apa lagi

            “Ta, gue boleh minta nomor lo? Dulu kan kita masih kecil belom punya HP jadi yaa...” sambil menyodorkan Iphone-nya ke gue

            “Iya Jar, nih 08578887057” sambil balikkin Iphone-nya ke dia

            “Ta, nanti gue sms ya, gue pergi dulu, temen-temen gue udah nungguin” kata Fajar terburu-buru

            “Oke Jar, see you, hati-hati” kata gue menyudahi percakapan

Fajar melangkah pergi, sampai ia kemudian berhenti dan membalikkan badannya kembali dan berlari kecil ke arah gue.

            “Taa, I’m glad to see you here J” kata Fajar sambil memegang pundak gue

            “Haa… Iya Jar I’m glad to see you here too Fajar” kata gue masih ga nyangka dengan sikapnya yang berbalik ke arah gue tadi

Tidak lama setelah itu gue mendengar suara orang berlari kecil ke arah gue dan menyadarkan gue kembali ke dunia nyata.

            “Taa! Lo kemana aja sih? Lama banget solatnya. Makanan lo keburu dingin tuh….” Kata Risa sambil pegang lengan gue plus suara ocehan dia yang ngga ada koma-nya…

            “Haah?!?!? Iya… iya Ris. Lo mau kemana?” Tanya gue

            “Ke kamar mandi, misi Taa kebelet nih” kata Risa terburu-buru
            “Ehh iya... iya maaf” gue meminggirkan diri agar Risa bisa lewat

Gue segera menuju ke meja makan. Dan makan dengan penuh khidmat, demi perut ini yang menuntut sesuap nasi. Setelah membayar makan, gue pulang begitu juga dengan Anna, Risa dan Andri.


Sesampainya gue di rumah, Papa udah pulang. Pas gue masuk rumah, tiba-tiba Papa manggil gue.

            “Talitha…” panggil Papa

            “Iya Pa?”

            “Coba kesini sebentar Nak, ada yang mau Papa omongin sama kamu”

            “Ada apa Pa?”

            “Kamu mungkin sudah tau apa yang bakal Papa omongin ke kamu sekarang, toh kamu juga sudah besar, sudah tau mana yang benar dan mana yang salah. Dan Papa rasa kamu juga sudah tau apa yang terjadi akhir-akhir ini antara Papa dan Mama mu.”

            “Jadi intinya Papa……?” tanyaku memperjelas

            “Papa akan urus perceraian dengan Mama mu”

Tiba-tiba Mama datang dan duduk tidak jauh dariku.

            “Talitha….”

Aku menundukkan kepala ketika Papa memanggil namaku, dan saat itu kulihat Papaku menangis. Dan Mamaku hanya menolehkan kepalanya ke arah lain, menutupi kesedihannya kurasa.

            “Maafkan Papa Nak” lanjut Papaku

            “Aku ngga apa-apa kok Pa, Ma. Aku mengerti apa yang terjadi, walaupun aku ngga tahu permasalahannya apa, tapi jika ini memang yang terbaik untuk kalian berdua, aku mengerti. Aku ke kamar ya Pa, Ma”

Gue beranjak dari sofa dan meninggalkan mereka, hingga gue teringat sesuatu.

            “Oiya Pa, Ma, aku serahkan kepada kalian aku akan tinggal dengan siapa” kataku sambil tersenyum pasrah

Gue ngga tau mesti ngapain, gue sudah menyiapkan mental untuk hal ini, ya, karena semenjak Papa dan Mama bertengkar entah kenapa gue ngerasa hal ini akan datang pada waktunya, ya sekarang adalah waktu yang tepat itu. Waktu yang merubah kehidupan gue ke depannya. Gue ganti baju, dan langsung tidur, berharap besok pagi gue bisa bangun dengan kehidupan yang lebih baik, haha iya gue tau itu ngga bakalan terjadi.


Waktu menunjukkan pukul 06.37 am. Gue nunggu Pak Yono di depan pagar rumah, tepat pukul 06.40 am, Pak Yono sampe. Dan gue langsung berangkat ke sekolah.

Gue kelas 12 IPA F, mata pelajaran pertama Fisika gurunya Pak Ahmad. Gue bersekolah di salah satu SMA swasta di Jakarta. Gue sekelas sama Vanny dan Ana. Riko dan Risa di 12 IPA D, Andri di 12 IPA A. Habis pelajaran Bahasa Indonesia bel istirahat pertama berbunyi. Gue liat hp gue, dan gue baru inget semalem gue langsung tidur dan ngga charger hp, masih ada 40% lah. Pas gue lagi liat Line, tiba-tiba ada sms masuk dengan nomor yang ngga ada di kontak gue. Gue baca sms itu.

            “Ta, ini gue Fajar” bunyi sms itu

Seketika gue inget lagi pertemuan gue sama Fajar kemarin di cafรฉ.

            “Fajar…” kata gue dalem hati.

Gue bales sms itu.

            “Iya, Jar. Udah gue save ya nomor lo” balas gue

            Ok deh. Mmm, lagi dimana lo?

            “Di sekolah. Lo?

            “Sama Ta hehe

Gue ngga bales lagi smsnya, karena bel masuk udah berdering kembali. Pelajaran Biologi mengawali jam 10 ini.

Akhirnya, tiba juga jam 02.00 am. Gue pulang sekolah seperti biasanya. Gue izin pamit pulang duluan sama Risa, Ana, dkk. Gatau kenapa hari ini gue lagi pengen sendiri aja gitu, iya karena biasanya sebelum pulang ke rumah, gue seengganya ngobrol dulu di sekolah sama Riko, Vanny, Risa, Ana, dan Andri. Gue jalan dari sekolah, liatin jalanan yang biasanya ngga sama sekali gue perhatiin. Ojek Pak Yono? Gue memutuskan untuk nanti aja telepon Pak Yono, kalo gue udah capek jalannya. Ternyata selama ini banyak yang ngga gue perhatiin dari perubahan sekitar gue, gue selama ini terlalu sibuk buat mikirin diri gue sendiri. Gue selalu beranggapan bahwa orang tua gue egois, maka dari itu gue ngga terlalu peduli dengan apa yang mereka lakukan, ya contohnya kemarin, saat bokap gue bilang tentang perceraian kemarin, gue ngga terlalu mikirin, ya karena buat apa, toh itu juga ngga berpengaruh apa-apa ke kehidupan gue, hidup gue bakalan terus berjalan, lagian dari kecil gue juga udah terbiasa dengan keadaan dimana bokap dan nyokap gue sibuk bekerja, hingga gue ya jadi anak yang kaya gini rupanya. Makanya dulu waktu kecil temen gue Cuma Fajar.

            “TALITHA!” panggil seseorang di belakang gue

Gue menoleh ke belakang dan gue menemukan sosok Fajar disana, iya Fajar nama yang barusan gue sebut di dalam hati.

            “Lo ngapain Jar?” Tanya gue

            “Gue tadi lewatin sekolah lo, trus udah sepi, jadi gue coba aja cari lo di jalan, eh ternyata lo disini lagi jalan”

            “Iya, emang sekolah lo deket sama sekolah gue?”

            “Udah nanti aja ceritanya di jalan, yuk naik, gue anterin lo pulang”

            “Hmm oke”

Gue naik motor sama Fajar. Tinggal sekitar 17 menit lagi untuk sampe ke rumah gue. Memori masa kecil dulu kembali terlintas di pikiran gue, waktu gue dibonceng naik sepeda sama Fajar buat ke depan komplek Cuma buat beli bakso yang katanya Pak Satpam di komplek gue itu enak, yap bermodalkan uang 5000 rupiah gue beli bakso sama Fajar, semangkok berdua haha, kalo inget-inget masa kecil dulu gue jadi geli sendiri.

Ckiiiitttttttttttttt…

Fajar ngerem motornya dan berhenti di…

            “Loh Jar ngapain kita berenti disini?” Tanya gue

            “Lo ga kangen apa sama baksonya Pak Wiyono? Eh salah, kayanya gue doang yang kangen sama baksonya, secara lo masih tinggal disini, jadi ya otomatis lo sering dateng kesini juga…”

            “Engga Jar… gue terakhir kesini sama lo dulu waktu kita masih kecil” kata gue menerawang

            “Yaudah ga penting, ayo” kata Fajar narik tangan gue setelah dia parkir motornya

Gue juga ga nyangka ternyata Pakde, panggilan akrab gue dan Fajar ke Pak Wiyono juga masih menjual bakso kotak sambel ijo, bakso favorit gue setiap dateng kesini.

            “Iya nih neng Talitha udah jarang banget main kesini,” kata Pak Wiyono

Gue Cuma bisa tersenyum manis, mendengar celotehan Pakde. Iya begitulah ternyata Fajar masih sama kaya yang dulu, suka banget sama yang namanya ngobrol, jadi ga asing lagi ngeliat Fajar sama Pakde ngobrol kaya gitu hmm padahal mereka baru ketemu hari ini kan… tapi gayanya udah kaya ketemu tiap hari aja.

            “Makasih ya Pak, nanti Fajar main kesini lagi ya… Assalamualaikum, salam buat Bukde ya Pakkk”

            “Iya Wa’alaikumsalam Jar, hati-hati ya Fajar Talitha”

            “Iya Pakkk” kata gue mengiyakan sambil tersenyum




“KAMU EMANG NGGA PERNAH NGERTIIN AKU, GIMANA AKU BISA HIDUP SAMA KAMU SELAMA INI HAH????!!!!”

            “AKU EMANG UDAH NGGA COCOK LAGI SAMA KAMU, BERTAHUN TAHUN AKU COBA UNTUK MEMPERBAIKI SEMUANYA, TAPI MANA? NYATANYA KAMU KAN YANG MEMANG MENGHENDAKI PERCERAIAN INI!!!”

            “……………………………………”

            “…………………………………………………….”

DEG! Mama Papa!

            You shouldn’t been here Jar” kata gue dalam hati

Fajar udah terlanjur denger semuanya, tepat di depan pintu rumah gue, Iya Fajar denger semuanya, semua pertengkaran Mama sama Papa. Entah kenapa tiba-tiba air mata udah jatuh dari mata gue, dan gatau kenapa gue ngerasa malu, malu, mungkin ini yang menyebabkan air mata gue jatuh. Gue malu temen gue tahu apa yang gue rasain selama ini, ngga seharusnya Fajar tau akan hal ini. Dan satu lagi, gue juga ngga pernah nangis sebelumnya setiap temen-temen deket gue nanya tentang perceraian orang tua gue, tapi kali ini beda, gue merasa bener-bener malu, bener-bener rapuh.

Tiba-tiba Fajar narik pergelangan tangan gue, dan kita pergi. Gue ngga tau mau dibawa kemana, gue Cuma bisa ngeliatin jalanan entah pikiran gue terbang kemana.

            “Ini tempat favorit lo kan?”

Gue melihat sekeliling… hamparan ilalang tersebar di depan gue.

            Iya gue suka tempat ini… kata gue dalam hati

            “Maaf Jar, ngga seharusnya lo denger itu semua tadi” Cuma itu kata-kata yang mampu keluar dari mulut gue

            “Its OK Ta, I got it

Ngga terasa gue udah lewatin sunset disini. Gue cuma diem ngeliatin semuanya merefleksikan lagi kehidupan gue. Dan ya… Fajar membiarkan gue untuk semuanya, dia cuma rebahan di lapangan rumput beberapa meter di belakang gue.

            “Ta?”
           
“Taaa?”

“Taa… Talitha” Fajar membalikkan badannya

Dia sampe ketiduran gini… kata Fajar dalam hati

            “Talitha, ayo bangun, kita pulang yuk”

            “Ngggh” gue membuka mata perlahan, dan…. jeppp, udah gelap lagi

            “Jar ini jam berapa?!!!!”

            “18.30” kata Fajar santai

            “Ayo pulang” kata gue seketika bangun dari tidur dan berlari kecil ke arah motor kita parkir tadi

Brrrummmmm... brummmmmmmm…brrrrrummmmmmmmmm… brummmmmm

Suara motor Fajar memecah keheningan petang kala itu.

“Assalamu’alaikum” aku membuka pintu rumah

“Wa’alaikumsalam, Talitha kamu sudah pulang nak?”

Dan deghhh... pemandangan yang kulihat saat ini adalah pemandangan yang paling aku rindukan setelah 10 tahun berlalu.


Mama sama Papa shalat berjamaah.



“Iya Pa Ma, aku naik ke atas dulu ya” kataku sambil berlalu ke kamar

Mataku berkaca-kaca dan aku langsung ke kamar mandi, wudhu dan solat maghrib.

“Ya Allah tiada kata yang dapat aku ungkapkan untuk menggambarkan rasa syukurku untuk hari ini, Ya Allah seandainya pemandangan tadi adalah awal dari kehidupanku yang baru maka biarkanlah aku untuk melihat pemandangan paling indah sepanjang hidupku itu setiap hari, dan izikanlah aku untuk menemani Mama berdiri menjadi makmum Papa. Aaminn” doaku selesai

Aku mandi dan kembali ke bawah menuruti permintaan perutku yang sepertinya sudah minta diisi ini.

Capcay baso, makanan favorit aku dan Papa yang dulu sering Mama masak untuk kita kini terhidang lagi di depanku.

Hanya kepadaMu hamba mengucap syukur ya Allah” ucapku dalam hati

Kami makan dalam keheningan, keheningan yang setidaknya dapat menebus rasa rinduku akan memori-memori masa lalu yang kembali terlintas di pikiranku.

“Ehemm...” Papa berdehem

Kami menoleh seketika.

“Talitha, pasti kamu tau apa yang terjadi sekarang, dan malam ini pasti juga membingungkanmu karena pemandangan seperti ini...”

“Mama dan Papa minta maaf sama kamu ya Nak, kami sudah menjadi orang tua yang tidak bertanggung jawab, kami sudah tidak dewasa dalam menghadapi suatu masalah, dan bahkan kami hampir saja membuat kamu menjadi korban dari sifat kekanak-kanakan kami, sekarang kami hanya bisa memperbaiki semuanya Nak, kita mulai lagi dari awal ya Nak, mulai sekarang kita harus solat berjamaah terus ya di rumah dan harus makan malam di rumah terus bertiga kaya gini...” kata Mama berkaca-kaca



#####



Itu dulu, sepenggal kisahku 7 tahun yang lalu. Sekarang aku sudah menjalani musim baru dalam hidupku, ditemani dengan 3 orang anak yang lucu-lucu, Fatimah, Anwar dan Umar. Dan seorang laki-laki yang menemani sisa hidupku, Hafizh. Dan tentunya kedua orangtuaku.

Terimakasih.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh



Best regards,

Shavira Noer Shanaz




Hijab Bagi Muslimah

Oleh: Nurfitriyani Barokah Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kehi...