Sabtu, 21 Januari 2017

BERITA ACARA

            Sabtu (21/1) Diklat Ekonomi Islam (DEI) merupakan acara dari Departemen Forum Ekonomi Syari’ah Trilogi (FEST) Lembaga Dakwah Kampus As-Salam yang bertemakan “Membangun Generasi Ekonom Rabbani yang Madani”.
            Diklat yang dilaksanakan di Ruang Kelas 410 Universitas Trilogi ini dimulai pukul 10.00 WIB. Peserta yang menghadiri pendidikan dan pelatihan Ekonomi Islam ini mencapai 32 orang.
            Kegiatan dipandu oleh MC, yaitu saudara Muhammad Saefudin (sebagai anggota KSEI FEST periode 2017). Agar kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan berkah maka dari itu dimulai dengan membaca Basmallah, yang kemudian disusul dengan pembacaan tilawah oleh saudara Muhammad Ichsan dan saritilawah oleh saudara Fauzan Herdiyansyah.




            Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama oleh Kak Rafi Rahmad Darmawan (Presidium Nasional FoSSEI 2016-2017). Beliau merupakan mahasiswa lulusan STEI Tazkia (2013) dan PM Darussalam Gontor (2012). Kak Rafi memaparkan materi terkait dengan tema yang diusung oleh panitia DEI “Mengenal FoSSEI Lebih Dekat”. Pemaparan ini disajikan dalam bentuk kajian, diantaranya pengenalan FoSSEI dan KSEI, sejarah terbentuknya FoSSEI, karakteristik FoSSEI,  visi dan misi FoSSEI, struktur keorganisasian FoSSEI, dan regulasi ekonomi syari’ah.
            Setelah pemaparan dari Kak Rafi, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kedua dari Kak Zilal Afwa Ajidin (Presidium Nasional FoSSEI 2016-2017). Beliau memaparkan materi tentang “Meraih Prestasi dengan Menulis”. Materi yang dibahas dalam kajian kedua mengenai tips menulis opini. Alhamdulillah, sejak materi pertama maupun materi kedua peserta cukup antusias dalam memperhatikan penyampaian materi oleh kak Zilal.  Pukul 11.55 WIB kegiatan ditunda sambil menunggu waktu Dzuhur.
            Setelah ISHOMA, dilanjutkan kembali pemaparan materi yang terakhir, yang disampaikan oleh kak Jabbar Sambudi (Presidium Nasional FoSSEI 2015-2016). Disini, beliau memaparkan tentang bagaimana memahami ekonomi Islam secara kaffah. Peserta diklat cukup kritis dan antusias menanggapi hasil pemaparan yang ketiga ini. Penanya pertama dari saudari Latifah Husna, kedua dari saudari Anasthasya Sutrisno, dilanjutkan pertanyaan ketiga dari saudari Vinni dan yang terakhir pertanyaan dari saudari Sri Astuti.
            Setelah sesi tanya jawab selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penghargaan dari panitia kepada ketiga pembicara. Sebelum kegiatan berakhir, adanya kegiatan hiburan berupa games “Rangking 1” untuk mengasah kapasitas para peserta terkait materi yang sudah dibahas. Games ini dimenangkan oleh saudari Marie Indah Alfinnur.
            Terakhir, kegiatan Diklat Ekonomi Islam (DEI) ditutup dengan pembacaan do’a oleh saudara Muammar Humaidi Mubin, disusul dengan pembagian hadiah kepada pemenang games dan 10 pendatang pertama.

Poin-poin pembahasan materi, kami rangkum sebagai berikut:
Materi 1
Oleh Kak Rafi Rahmad Darmawan “Merajut Ukhuwah dalam Dakwah Bernuansa Ilmiah”
·       FoSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam) adalah wadah silaturahim tingkat nasional yang mengakomodir mahasiswa pencinta ekonomi Islam yang tergabung dalam KSEI di kampus masing-masing
·       KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) merupakan perkumpulan mahasiswa yang sama-sama memiliki tujuan untuk mengkaji ilmu ekonomi Islam di masing-masing kampus. Saat ini, terdapat 125 KSEI yang bergerak aktif di seluruh Indonesia.
·       Struktur keorganisasian FoSSEI:
Ketua KSEI à KOREG (Koordinator Regional) à PRESNAS (Presidium Nasional)
·       Visi FoSSEI: Pembumian Ajaran Islam dalam Bidang Ekonomi
Penjabaran Visi:
1.     Pembinaan
2.     Kelembagaan
3.     Kebangsaan
4.     Peradaban
·       Misi FoSSEI:
1.     Memberdayakan dan mengembangkan sistem ekonomi Islam dalam tataran keilmuan dan aplikasi
2.     Menjalin ukhuwah Islamiyah antara kelompok-kelompok studi ekonomi Islam dan lembaga sejenis dengan berusaha membangun budaya Islamiyah, ilmiah, dan profesional.
·       Sejarah singkat berdirinya FoSSEI:
1.     Januari 2000, pertemuan pertama di UNDIP Semarang dengan disepakati perlunya suatu wadah dalam pergerakan ekonomi Islam di tingkat mahasiswa.
2.     Maret 2000, pertemuan kedua di UI Jakarta (second UI)
3.     11-13 Mei 2000, Kongres KSEI I di UNDIP Semarang ditetapkan sebagai tanggal berdirinya FoSSEI
4.     April 2001, MUNAS (Musyawarah Nasional) I FoSSEI di UIN Jakarta, dihasilkan 12 regional FoSSEI tersebar di Indonesia
5.     4-6 Mei 2002, Temu Ilmiah Nasional (TELMINAS) I di UNPAD
·       Karakteristik FoSSEI:
-        Ukhuwah
-        Dakwah
-        Ilmiah



Marteri 2
Oleh Kak Zilal Afwa Ajidin “Tips Menulis Opini
·       Opini adalah artikel ilmiah populer yang berisi PENDAPAT penulis yang bersifat subjektif, berdasarkan data dan fakta yang ada, tentang sebuah peristiwa.
·       Fungsi menulis:
-        Menambah ilmu
-        Sarana dakwah
-        Menambah rezeki
·       Struktur penulisan:
1.     Judul (maksimal 4 sampai 5 kata)
2.     Alinea Pembuka (Lead)
3.     Alinea Penjelas (Batang Tubuh)
4.     Alinea Penutup (Ending)
·       Teknis menulis:
1.     Pilih tema
2.     Susun alinea pertama
3.     Uraikan dengan kalimat penjelas (berdasarkan data)
4.     Buat kalimat penutup
5.     Edit ulang draft awal
6.     Langsung dikirimkan ke media massa
·       Bagi peran otak kita dalam menulis:
-        Biarkan otak kanan mengetik sesukanya, jangan dihentikan
-        Setelah selesai, editlah dengan otak kiri
·       Tips agar opini dimuat di media:
1.     Tema yang actual
2.     Gagasan/ide orsinil dan baru
3.     Kompeten dengan opini yang ditulis (sesuaikan dengan keahlian kita)
4.     Kecepatan
·       Manfaat menulis opini:
-        Terhindar dari siklus anak kosan (tukang jajan)
-        Manfaat bagi pembaca: 10 % saja pembaca tulisan kita, 1.000 orang yang tercerahkan (konsep kapitalisasi amal)
-        Dikenal zaman



Materi 3
Oleh Kak Jabbar Sambudi “Berekonomi Islam Kaffah”
·       What do you want?
-        Memahami ekonomi Islam sesuai dengan definisi iman: meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan perbuatan.
-        Kualitas setiap orang berbeda-beda, baik dari segi paradigmanya, cara berpikirnya, ataupun dari niatnya dalam melakukan sesuatu.
·       Sifat Islam:
-        Komprehensif
-        Universal
·       Redaksi ayat:
-        QS. Al-Maidah ayat 3, Islam sebagai agama yang sempurna
-        QS. Al-Baqarah ayat 208 tentang masuk Islam secara kaffah (menyeluruh/total)
·       Tugas (fitrah) manusia di bumi:
-        Beribadah:
a.      Ibadah mahdah: ibadah yang sudah disyaratkan namun tidak bisa kita rasionalisasikan
b.     Ibadah ghairu mahdah: ibadah yang bisa kita rasionalisasikan tujuan dan manfaatnya, contohnya: belajar, makan, tidur, dan sebagainya (jika kita niatkan untuk ibadah maka berbuah pahala bagi kita)
-        Khalifatullah (memakmurkan bumi): menjadi wali Allah dengan dasar “Untuk apa kita diciptakan sebagai khalifah di bumi?”
·       Mengenai riba:
-        Larangan riba dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 275
-        Dosa riba ada 37 tingkatan, dimana dosa riba yang paling rendah adalah seperti dosanya seorang anak yang menzinahi ibu kandungnya sendiri.
-        Riba sendiri masuk ke dalam kelompok 7 dosa besar yang harus dijauhi sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
“Jauhilah tujuh macam dosa yang bertingkat-tingkat(besar), diantaranya ialah:
1.     Syirik (mempersekutukan Allah)
2.     Sihir
3.     Membunuh diri yang diharamkan Allah kecuali dengan hak
4.     Memakan harta riba
5.     Memakan harta anak yatim
6.     Lari dari peperangan
7.     Menuduh wanita yang beriman yang tidak tahu menahu dengan perbuatan buruk dengan apa yang difitnahkan kepadanya.
(HR. Bukhari dan Muslim)
·       3 karakteristik manusia agar menjadi khairu ummah:
-        Ammar ma’ruf: menyeru kepada kebaikan
-        Nahi mungkar: mencegah keburukan
-        Beriman kepada Allah (salah satunya dengan jalan dakwah)
·       Tahapan dakwah
-        Manusia sebagai USWAH (panutan/teladan/contoh)
-        Dakwah bil hikmah: menyampaikan dengan cara yang baik-baik
-        Dakwah bil qaul: menyampaikan dengan perkataan (bila tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan)
-        Dakwah bil tadwin
-        Catatan: pendidikan karakter bukan berasal dari perkataan saja, melainkan dengan adanya uswah (panutan)

·       Istiqomah: bukan hanya konsisten, namun dengan meneguhkan hati kita dengan meyakini dalam hati kita atas ajaran Allah SWT.

Sabtu, 17 September 2016

Kajian Keputrian As-Salam

🍃🍃🍃[Kajian Keputrian As-Salam] 🍃🍃🍃
Jumat, 16 September 2016
⏰12.00-13.00
============##########=============
Moderator 👸: Kak Dika Firdiyani (Ketua Keputrian As-Salam 27)
Pemateri 👸: Ustadzah Ari
============##########=============
Tema : Hijab Solidarity

Assalamu'alaykum wr. wb. 😊😊

Ikhwahfillah pada kesempatan membahas tentang Hijab Solidarity 
Now, lets say basmallah :) ✊🏼✊🏼✊🏼✊
Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Keakhwatan LDK As-Salam Universitas Trilogi

🌷Hijab solidarity atau sering di sebut IHSD (Internasional Hijab Solidarity Day)  merupakan salah satu momen bagi para wanita muslim di beberapa negara untuk mengampanyekan pemakian hijab di dunia. Pada awalnya, IHSD diprakarsai oleh para pemeluk Islam di empat negara, yakni; Perancis, Jerman, Tunisia dan Turki. Di negara tersebut para muslimah berhijab 👭👭 seringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan bahkan larangan untuk berhijab😱😨pada tahun 2002. Dan mereka merasa ga bebas ketika kaum muslimah disana memakai hijab. Oleh karena itu, IHSD sendiri memberikan penekanan pada makna kata Solidarity (solidaritas) yakni rasa senasib dan setia kawan.👭👭. Tapi kalau di Indonesia merupakan suatu anugerah dari Allah😄.

Point penting dalam memperingati IHSD
1. Penetapan tentang penggunaan hijab.
2. Hari peringatan Internasional Hijab.
Acara IHSD sebenarnya mempunyai makna yaitu dengan adanya perjuangan memakai hijab. 

Hijab bukan perintah manusia, temen atau siapapun. Tapi ini adalah perintah Allah melalui turunnya Al-Quran. Ada hal yang paling krusial dalam esensi 2 ayat dalam Al-Quran:

1. Q.S An-Nur : 31 

yang artinya "Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentalkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung". Asbabun Nuzul dari Q.S An-Nur:31, Hadhrami Ra meriwayatkan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang wanita yang mengenakan dua buah gelang kaki. Ketika berjalan di depan sekelompok orang, ia mengentakkan kakinya dengan maksud agar dua gelang kakinya berbunyi. (HR. Ibnu Jarir. Lihat Qurthubi: 6/4774)

Hikmahnya:

1. Taubat adalah wasilah untuk mencapai kemenangan.
2. Menetapkan adanya sebab dalam segala sesuatu.
3. Bukti perintah Allah untuk menutup dada, kecuali muka dan telapak tangan.

2. Q.S Al-Ahzab : 59 

yang artinya “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Asbabun Nuzul QS. Al-Ahzab : 59 Aisyah Ra memaparkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah turunnya ayat hijab. Suatu saat Saudah ra, salah satu istri Rasulullah SAW, keluar rumah untuk suatu urusan. 'Umar bin Khattab ra melihat Saudah ra dan bertanya, "Mengapa kau keluar rumah?" Saudah ra bergegas pulang. Ia menemui Rasulullah SAW dan berkata, " Rasulullah, aku keluar rumah untuk suatu urusan. Namun Umar menegurku." Atas hal itu, turunlah ayat ini. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kamu keluar rumah untuk suatu urusan." (HR. Bukhari)

Esensinya bukti kasih sayang Allah kepada wani muslimah karena Allah Maha Baik. Bukan sebuah paksaan tapi Allah memberi peringatan bagi yang mencintai hambaNya.

Ukhti Fillah sesungguhnya janji Allah itu Maha Benar. Sesungguhnya hijab adalah bahwa Allah memberikan hidayah, Inayah kepada wanita muslimah. Satu hal hijab butuh proses yang lambat lain tergantung orang karena iman kita seperti grafik terlihat fluktuasi. Maka bersyukurlah atas nikmat yang Allah berikan untuk berhijab. 

Yang belum berhijab semoga Allah memberikan hidayah dan digerakkan serta dibukakan hatinya yang lunak😄🙏🏻

Bagi yang sudah berhijab, mohon doanya semoga diberikan keistiqomahan, karena ini berkat Rahmat Allah.

 ﻳُﻮَاﺭِﻱ ﺳَﻮْﺁﺗِﻜُﻢْ ﻭَﺭِﻳﺸًﺎ ۖ ﻭَﻟِﺒَﺎﺱُ اﻟﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺧَﻴْﺮٌ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ اﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُﻭﻥ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
(QS. Al-A'raaf : 26)



Tugas kita sebagai kader penerus dakwah selanjutnya adalah merangkul yang merupakan bagian dari Istiqomah.
😊

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh😄😄😊

#AcaraAs-Salam
#DenganMabaAs-Salam28
#DepartemenKeakhwatan
#DepartemenSyiar
#BiroAl-Qolam
#As-Salam27
#KreatorPeradaban
#SpreadingKindnessWithDakwah

Minggu, 14 Agustus 2016

Syawal : Tidak Mengurai Lagi Pintalan Benang yang Sudah Kuat


 


Alhamdulillah, Innalillah, sudah sampai kita pada hari terakhir dalam Ramadhan penuh berkah ini. Antara gembira dan sedih, gembira karena sebentar lagi menemui kemenangan di ujung Ramadhan dan sedih karena sahabat yang menemani ibadah akan pergi meninggalkan kita.
Dan entah mengapa ada yang bilang, “Tak terasa ya, udah mau lebaran aja.” Padahal Ramadhan ini sungguh sangat terasa. Lapar dahaga dan tentunya sudah banyak rangkaian ibadah
Ramadhan yang kita jalani. Sahur, buka puasa, tilawah, kajian, tarawih, hingga bertahan itikaf sampai akhir ini. Semoga apa yang kita usahakan selama ini mencukupi untuk dapat mengagungkan nama Allah. Allah berfirman,
...Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(Q.S. Al Baqarah:185)
Ayat di atas menjelaskan bahwa kita harus tetap bertahan hingga sempurna pada akhir Ramadhan dan dapat menggapai kemenangan, bertakbir, mengagungkan nama-Nya. Namun, sebenarnya hakikat kemenangan itu tidak hanya sekedar mencukupkan bilangan Ramadhan hingga akhir. Kita harus kembali ke tujuan Allah menghadirkan Ramadhan untuk kita dan mewajibkan kita berpuasa di dalamnya. Tujuan yang semuanya sudah sering sekali mendengar, Taqwa. Kemudian mari kita lihat terminologi apa yang Allah pilih dalam akhir surat Al Baqarah ayat 183. Allah memilih diksi تَتَّقُونَ yang posisinya adalah sebagai filul mudhori.

Dalam Bahasa Arab, fi’lul mudhori’ adalah kata kerja kontinyu, dengan kata lain
sedang melakukan pekerjaan dan belum selesai mengerjakan pekerjaan tersebut. Maka, taqwa yang harusnya menjadi tujuan dari shoum ini adalah selepas Ramadhan berakhir, kita masih berjalan dengan pekerjaan taqwa kita pada Ramadhan, sedang melaksanakan taqwa kita, dan belum akan selesai dengan ketaqwaan kita.

Bulan Ramadhan ini adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan, bagi diri seorang mukmin. Kita disibukkan dengan ibadah-ibadah vertikal maupun horizontal dalam Ramadhan ini. Jangan sampai kita sudah kerja keras pada bulan ini, setelah bulan ini semua hilang begitu saja. Allah memberi perumpamaan dalam firman-Nya pada Surat An Nahl ayat 92,
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai…” (QS. An Nahl : 92)

Ayat di atas sebenarnya berkaitan dengan janji yang sudah berjanji dengan yakin kemudian membatalkannya. Namun, kisah yang dijadikan perumpaaan ini dapat menjadi analogi dalam perjuangan mengejar taqwa pada bulan mulia ini. Ayat tersebut mengkisahkan seorang nenek yang sedang merajut pakaian menggunakan benang. Hari per hari ia rajut sampai akhirnya pakaian tersebut selesai dengan rajutan yang sangat baik dan kuat. Kemudian pintalan benang yang telah menjadi pakaian itu diurai hingga berantakan semua. Sama halnya amalan kita di bulan Ramadhan, sudah kita usahakan semaksimal mungkin, tetapi ketika berakhir Ramadhan, berakhir pula amalan kita. Lelah, Sia-sia.

Syawal bulan awalan setelah bulan Ramadhan. Jika kita lihat arti dari syawal sendiri, syawal berarti peningkatan. Bulan syawal menjadi momen awal peningkatan ketaqwaan kita. Jika pada awal-awal tahun masehi orang-orang banyak membuat ‘resolusi tahun x’, mari kita juga buat ‘Resolusi Syawal’. Mungkin ini dapat menjadi terobosan peningkatan taqwa kita setelah Ramadhan usai. Resolusi Syawal bisa dilakukan dengan tetap menjaga amalan-amalan Ramadhan seperti tilawah dan qiyaamul lail. Dan sungguh sebenarnya bulan Syawal telah menyediakan fasilitas Resolusi Syawal yaitu puasa Syawal.

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Banyak amalan atau rencana lain yang dapat kita jadikan Resolusi Syawal versi kita. Mari Kita menuju taqwa sebenarnya salah satunya melalui Resolusi Syawal dengan “Tidak Mengurai Lagi Pintalan Benang yang Sudah Kuat.

Taqabalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum wa Ahalahullah Alaik. (Semoga amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu diterimaNya serta disempurnakanNya).
Jadikan Ramadan ini sebagai bulan bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan mencapai kemenangan yang hakiki. Semoga kita dibelebar panjang an barokah sehingga dapat dipertemukan lagi di bulan suci Ramadan tahun depan. Aamiin yaa robbal ‘alamin :)
Minal aidin walfaidzin. As’alukal afwan minal dzahiran wal bhinah, mohon maaf lahir dan batin.
Wallaahu a’lam bishshawab. Wabillahi taufik wa hidayah. Wassalamuaa’laykum. Wr. Wb .

Sumber : Puasa Syawal

Bantuan teks Quran : http://quran.com/

Oleh : Marie Indah Alfinnur

Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #KreatorPeradaban #SpreadingKindnessWithDakwah

Penghujung Waktu : Konsep Husnul Khotimah




Tidak beranjak dari masa lalu memang hal yang tidak baik, namun mengingat masa lalu bukanlah hal yang salah. Mari kita menengok sedikit saja ke belakang. Ke hari-hari di mana waktu menjadi semakin bermakna. Akui saja, kita sebagai muslim menjadi lebih akurat dalam mengingat waktu sholat, terutama subuh dan maghrib sebagai batas mulai dan berbuka puasa. Tidak hanya mengenai menit, tetapi juga hari semakin berarti. Meskipun mungkin tidak setiap hari, tetapi puasa yang berlangsung sebulan tidak dapat dipungkiri sangat terasa di awal dan di akhir. Di perjumpaannya dan di perpisahannya. Di awal menghitung-hitung baru sedikit sekali bulan puasa berlangsung. Hingga di akhir muncul kata-kata “tidak terasa ya” atau semacamnya. Di akhir, apalagi keistimewaan sepuluh malam ganjilnya pun semakin membuat kita menghitung-hitung berapa hari lagi menuju 1 Syawal yaitu hari Idul Fitri atau yang biasa disebut oleh umat Islam di Indonesia sebagai “Hari Lebaran”. Hanya tinggal esok atau lusa. Setelah beberapa hari lalu kita menggumam, tinggal beberapa hari lagi. Di sepanjang penghujung waktu, perasaan kita tentu bercampur aduk. Sebagaimana perpisahan pada umumnya, waktu-waktu menjelang perpisahan akan menimbulkan rasa bahagia dan sedih di saat yang bersamaan. Seperti beberapa waktu ini yang bertepatan dengan kenaikan kelas di sekolah. Naik tingkat dari SMA ke kuliah, sidang sarjana, ada kebahagiaan atas kerja keras yang akan mengantarkan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun ada kesedihan atas perpisahan dengan teman-teman seperjuangan, juga penyesalan atas ketidakmaksimalan dalam berbuat baik bagi diri sendiri dan sekitar.

Petikan-petikan hikmah terbanyak yang bisa diperoleh baik bagi adik-adik SMA yang akan kuliah maupun kakak-kakak sarjana yang akan menuju dunia pascakampus nya masing-masing tak jauh berbeda dengan kebersamaan kita dengan Ramadhan ini. Sama-sama memetik hikmah di penghujungnya. Sempat terbersit di pikiran saya mengapa banyak hikmah yang harus hadir di penghujungnya? Mengapa malam lailatul qadr yang lebih baik dari seribu bulan ditempatkan di akhir? Mengapa itikaf umumnya kebanyakan dilakukan di akhir? Mengapa ramai-ramainya Ramadhan, baik kekhusyuan ibadahnya maupun persiapan duniawi seperti makan khas lebaran dan baju baru-yang semuanya itu Insya Allah jika diniatkan bernilai ibadah-terjadi di akhir?

Kemudian saya teringat nama sebuah sekolah islam swasta berasrama. Bukan sekolahnya, tetapi namanya. Husnul Khotimah. Artinya, akhir yang baik. Jujur saya tidak ingat di ayat mana atau di hadits manakah adanya kata-kata tersebut karena selama ini seingat saya ungkapan tersebut saya dengar dari doa yang dipanjatkan baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Ungkapan ini menurut saya adalah sebuah konsep hidup yang begitu inti. Segala hal yang ada dalam hidup kita, bagi orang yang beriman pada hakikatnya adalah jalan, jembatan, bekal, persiapan, perantara, dan sebagainya menuju kehidupan akhirat. Dalam konsep husnul khotimah, yang menentukan nasib atau nilai adalah pada akhirnya. Adilkah? Jika seseorang pernah berbuat baik lalu menjadi jahat dan jika seseorang pernah berbuat jahat lalu menjadi baik, sekilas terlihat sama bukan? Apakah lantas kebaikan atau kejahatan di masa lalunya benar-benar musnah begitu saja? Sebermakna itukah perubahan? Jawabannya bisa jadi iya. Bukan tentang hitungan baik dan buruk yang diakumulasikan. Tetapi sebagaimana bertambahnya amal dapat berlipat ganda, terdapat pula hukum yang mengurangi atau bahkan menghapus. Seperti halnya aqidah, yang jika seseorang berubah aqidahnya, berubah agamanya, maka terhapuslah perbuatan aqidah sebelumnya, baik perbuatan baik (iman dan amal sholeh) maupun perbuatan buruk (dosa dan maksiat).

Bagi muallaf, segala dosanya terhapuskan dan ia suci sebagaimana bayi yang baru lahir. Bagi orang yang murtad, segala pahalanya terhapuskan. Sebegitu pentingnyalah iman dan seberbahaya itulah syirik. Tidak hanya itu. Sebagaimana kita menilai dan dinilai orang lain, hanya orang berpikiran sempit lah yang menilai sesama hanya berdasarkan masa lalunya. Riwayat memang penting, tetapi selama nyawa masih bersemayam di tubuh kita, bukan sebuah kemustahilan jika di penghujung hayat diri kita berbeda seratus delapan puluh derajat. Sebegitu pentingnyalah yang di akhir.
Kembali pada waktu, fenomena ramainya ibadah atau yang saya lihat sebagai meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat menurut saya dapat diterjemahkan sebagai persiapan menuju hari akhir. Sebagaimana kita menjemput hari kematian kita, menjemput hari akhir zaman, seperti itulah kita menjemput satu Syawal. Dengan cara yang bermacam-macam. Mobilitas meningkat dilihat dari ramainya masjid oleh kajian-kajian keislaman maupun rangkaian itikaf, juga ramainya pasar oleh produk-produk khas lebaran maupun diskon besar-besaran. Orang-orang berbondong-bondong keluar dari rumahnya. Di ujung dari penghujung pun tradisi masyarakat Indonesia memperlihatkan mobilitas yang luar biasa hebat: mudik.

Khas. Keren. Merakyat. Tiga kata itulah yang saya pikir pantas disematkan untuk fenomena penghujung Ramadhan atau menjelang Lebaran. Khas, karena banyak tradisi yang dimiliki atau hanya ramai semarak di Indonesia. Seperti pawai Ramadhan, buka bersama, ta’jil dan sahur on the road, mudik, dan lain-lain yang begitu subur di Indonesia. Keren, dalam sudut pandang sebagai penuansaan syiar Ramadhan. Sebagai penghormatan. Sebagai penjiwaan. Merakyat, karena hampir seluruh orang merayakannya. Baik yang kaya maupun yang miskin, Ramadhan menghasilkan upaya pemerataan kebahagiaan. Meskipun tentu tidak akan rata dan tidak dapat diukur, meskipun tentu tetap ada yang berduka, namun dengan zakat, infaq, sedekah yang menyebar dan harga barang yang bervariasi, setidaknya secara umum setiap orang ’memaksakan’ dirinya untuk mengisi penghujung Ramadhan dan menyambut Idul Fitri dengan sebaik-baiknya.  “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan memohon ampunlah kepada-Nya.” Teringat Al Quran surat An Nasr ayat dua. Dulu, saya sempat terheran ketika membaca terjemahan surat ini. “Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan”, begitu ayat sebelumnya. Saya memikirkan rangkaian kata: memohon ampunlah kepada-Nya. Memohon ampun atas pertolongan dan kemenangan? Mengapa? Kemudian diakhiri dengan, “Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat”. Tak dipungkiri lagi, kata istighfar yang dimaksud adalah untuk bertaubat. Bertaubat atas pertolongan Allah dan kemenangan? Setelah saya membaca tafsirnya dari Tafsir Fii Zhilalil Quran, dijelaskanbahwa kemenangan yang dimaksud adalah atas peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Mekkah. Makna istighfar tersebut adalah memohon ampun kepada Allah, karena banyaknya perasaan yang bercampur aduk di dalam jiwa, yang begitu rumit dan halus jalan masuknya. Juga beristighfar dari rasa bangga dan sombong yang terkadang mengiringi kalbu atau menyelinap ke dalam hati atas kemenangan yang diraih karena sejatinya kemenangan mereka adalah atas pertolongan Allah.

Astaghfirullah. Untuk penyia-nyiaan waktu di awal Ramadhan. Untuk fluktuasi iman yang lebih banyak turun daripada naiknya. Untuk ibadah vertikal yang dilakukan sendiri ketimbang mengajak sesama. Untuk ibadah duniawi yang terkadang masih terombang-ambing niatnya. Untuk semangat yang hanya membara di perapian pribadi, juga untuk semangat yang mungkin tak kunjung membara hingga di akhir.

Satu Syawal. Lebaran. Idul Fitri. Bagaimanapun kita menyebutnya, semoga sebulan yang penuh rahmat dan berkah ini menjadi titik balik kita semua, bersama, menjadi pintu akselerasi untuk lebih memaknai arti hidup yang sebenarnya. Tak ada kata terlambat untuk mencintai. Cinta di penghujung waktu mungkin akan mengantarkan kita pada awal yang lebih baik. Cinta yang tersebab kepergiannya justru membuat kita semakin kuat. Sebelas bulan selanjutnya lah yang kemudian menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di awal tadi. Apakah cinta kita setulus itu? Apakah kita mencintainya dengan niat dan cara yang benar? Sehingga kita pantas untuk kembali suci?


Taqabalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum wa Ahalahullah Alaik. (Semoga amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu diterimaNya serta disempurnakanNya).
Jadikan Ramadan ini sebagai bulan bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan mencapai kemenangan yang hakiki. Semoga kita dibelebar panjang an barokah sehingga dapat dipertemukan lagi di bulan suci Ramadan tahun depan. Aamiin yaa robbal ‘alamin :)

Minal aidin walfaidzin. As’alukal afwan minal dzahiran wal bhinah, mohon maaf lahir dan batin.
Wallaahu a’lam bishshawab. Wabillahi taufik wa hidayah. Wassalamuaa’laykum. Wr. Wb .


Oleh : Marie Indah Alfinnur
Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #KreatorPeradaban #SpreadingKindnessWithDakwah



Hijab Bagi Muslimah

Oleh: Nurfitriyani Barokah Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kehi...