Sabtu, 01 April 2017

RODA KEHIDUPAN YANG BERPUTAR


Oleh : Suci Amalia
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
 #JemputHidayahdenganDakwah

Jakarta ,29 Maret 2016 adalah hari yang tak terlupakan bagi kami sekeluarga.  Hari dimana kehidupan kami berbalik 360 derajat menjadi sebuah mimpi buruk yang sungguh berat ku terima, hari dimana perusahaan Ayahku bangkrut, semua aset perusahaan tergadaikan, rumah, villa, mobil, Semua habis dijual untuk membayar hutang Ayahku kepada Bank, Ibuku terus menangis merenungi nasib kami kedepan, aku coba menenangkannya, tapi aku juga memikirkan entah bagaimana caraku melanjutkan Pendidikan…
Saat ini, Aku, Nafisha Syafwi, berstatus sebagai seorang pelajar kelas 12 di sebuah Sekolah Menengah Atas, yang hanya dalam hitungan bulan akan menjadi seorang Mahasiswi, yang akan menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi untuk menerima gelar sebagai seorang sarjana. Kejadian ini begitu menampar ku, membuat ku menahan pedih saat membayangkan harapan dan cita-cita ku , aku lantas berpikir apakah ujian seberat ini hanya diperuntuk kan bagi keluarga ku, adakah diluar sana orang yang bernasib sama seperti ku?      pertanyaan-pertanyaan itu lalu hanya bisa kusimpan di bagian paling dalam dari lubuk hatiku, habis bagaimana? jangan kan untuk menjawab pertanyaan ku, untuk memikirkan akan makan apa kami besok pun orang tua ku sudah memutar otak setengah mati. Aku adalah anak tunggal dikeluarga kecil ini, melihat keadaan orang tua ku , aku merasa ikut bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan keluarga ku ini , namun apa daya bahkan ijazah SMA pun belum kuterima, aku pun masih belum ikhlas jika harus membuang jauh-jauh harapan ku untuk berkuliah, tetapi entah apa jawaban dari ayah ku jika aku menanyakan masalah kelanjutan studi ku ini , bahkan untuk membayangkan nya pun aku tak sanggup.
Hari ini, aku pergi kesekolah dengan berjalan kaki, tak ada lagi mobil untuk mengantar ku , bahkan uang saku untuk naik kendaraan umum pun tak ku miliki, air mataku hamper menetes…Dalam hatiku berkata “Sejak kejadian itu, Ayah ku hanya bekerja serabutan dan bantu-bantu di sebuah tempat steam cuci mobil. Demi memperoleh rupiah untuk kelangsungan hidup kami, karena aku tidak memiliki seorang kakak ataupun adik , sehingga beban kami tidak begitu banyak dan akupun tak bisa membayangkan jika harus membagi kesedihan dan derita ini , rasanya biarlah cukup aku saja”. Tak terasa sekolah ku sudah semakin dekat , akupun bergegas masuk.

Sesampainya di kelas, teman karib ku sudah lebih dahulu sampai dan duduk di kursinya, yaitu disebelah ku. Yasmine namanya, dahulu dia sama seperti ku berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi sekarang aku sudah tidak seperti itu lagi . Melihat ku berpeluh dan terlihat sangat lelah dia bertanya ;       
 “ Naf , kenapa kamu gerah banget kayaknya ? AC mobil mu rusak atau gimana ?”  ujar nya ..dia sama sekali tidak tahu apa yang menimpaku ,
“ aku gak naik mobil , yas “, kujawab pertanyan nya dengan senyum kecil dan menghela nafas panjang.
“hah ? kenapa ? lagi rusak kah ? atau kamu ditinggal Ayah mu karena kamu kesiangan ? “ ia terus mendesakku dengan pertanyaannya .. “ nggak yas , aku sekarang sudah tidak punya mobil “  melihat ekspresiku yang berubah, Yasmine memegang pundak ku, lalu berkata “ada apa Naf? tolong ceritakan pada ku karena aku gak bisa melihat sahabat ku begini “ .
Setelah itu aku bercerita pada nya tentang keadaan keluarga ku, setelah bercerita panjang lebar Yasmine beberapa kali merespon ku dengan ucapan sabar dan semangat, dia juga berkata bahwa pasti ada jalan untuk ku melanjutkan ke perguruan tinggi, selama aku memiliki tekad yang kuat, motivasi darinya bisa ku terima .
Aku tahu bahwa kesempatan belum tentu berpihak pada ku, tetapi tekad ku masih utuh tak luntur sedikitpun. Hari ini di sekolah ku adalah jadwal untuk kami para siswa/i kelas 12 untuk mengikuti suatu jalur untuk ke perguruan tinggi melalui nilai rapor, yaitu SNMPTN. Hanya 75% siswa di sekolah ku yang mengikuti jalur tersebut, melalui seleksi nilai tentunya, dan aku salah satu nya. Saat diberitahu oleh guru ku bahwa aku akan mengikuti jalur SNMPTN, bimbang melanda hati ku, harus kah aku mengikutinya? tapi melihat kondisi ekonomi keluargaku saat ini … huhh ntah lah??? ..
Wali kelas ku mulai menginstruksikan untuk kami mengisi form SNMPTN yang berisi jurusan serta perguruan tinggi yang akan kami pilih . ku lihat Yasmine memilih jurusan Ilmu Keperawatan di suatu universitas ternama di Indonesia , lalu ku mantapkan pilihan ku, aku memilih jurusan Teknik Sipil di universitas negeri yang ada di Jakarta. Sejak kecil aku sangat ingin menjadi seorang Arsitek wanita yang hebat, gambar ku pun banyak yang bilang bagus , aku suka mendesain berbagai model bangunan yang ada di imajinasi ku lalu ku tempel dikamarku sebagai motivasi.
Sesampainya dirumah, aku menceritakan hal tadi kepada Ibu ku , karena Ayah ku belum pulang ke rumah. Setelah mendengarkan cerita ku, Ibu ku menampilkan senyum lebar nya, tapi raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pula, aku tahu itu.
“ wahh itu bagus , nak . cita-cita mu tinggal selangkah lagi , ibu doa kan agar kamu berhasil lolos seleksi tersebut . tapi nak , apa kamu sudah bicara pada ayah mu apakah ia akan mengkuliah kan mu ? karena kita tahu bahwa keadaan sekarang sedang buruk..”,
Aku hanya terdiam, wajah ku pucat, ternyata Ibu ku berpikiran sama seperti ku, harapan ku nyaris hilang. tanpa berbicara lagi, aku langsung pamit untuk ke kamar ku. aku berbaring lemas, menatapi gambar-gambar ku, huhh bagaimana ini… keluhku dalam hati. lalu ku pejamkan mata untuk sekedar menghilangkan penat ku untuk sesaat. Malam pun tiba, kulihat Ayahku sedang duduk di teras rumah, aku menghampirinya, lalu aku berkata ;
“ayah , boleh aku bicara sesuatu yang penting? “ ujar ku . “tentu saja , Naf mau bicara apa? “ . Lalu aku menjawab serata menanyakan tentang kuliah ku , “ maaf Naf, sepertinya untuk tahun ini Ayah belum mampu untuk mengkuliahkan mu, tapi Ayah janji, tahun depan kamu akan kuliah bagaimana pun caranya, Ayah akan mengumpulkan uang ,nak. Ayah mohon maaf padamu sekali lagi “ . Ayahku menjawabnya dengan nada ingin menangis, Aku tidak bisa berbuat apa-apa. aku hanya menjawab “ iya Ayah tidak apa-apa. Naf masuk kamar dulu, ya.” Ya, sejak saat itu hari-hariku sungguh sangat bertambah suram, aku sudah ditetapkan oleh orang tua ku untuk tidak berkuliah .

Pengumuman kelulusan pun tiba, sekolah ku mengadakan acara kelulusan angkatan ku di aula gedung sekolah ku. Semua teman-teman ku datang bersama orangtua nya dengan menggunakan mobil, tapi aku tidak iri sedikit pun . Saat kepala sekolah ku mengumumkan hasil UN, sungguh sangat tidak disangka aku mendapat peringkat 3 besar yang meraih nilai UN tertinggi….,, dengan bangga aku maju ke atas panggung untuk mengambil piala dan mendapat ucapan selamat dari para guru dan kepala sekolah ku . kulihat kedua orang tua ku tersenyum bahagia , aku sungguh merindukan senyuman itu . syukur lah.
Setelah hari itu , aku mendapat tawaran dari kepala sekolahku untuk mengikuti tes beasiswa ke luar negeri yaitu Belanda. Aku tentu sangat antusias dan mempersiapkan diri ku sebaik mungkin. Hari tes pun datang, aku mengerjakan semua soal dengan sungguh-sungguh aku sangat berharap mendapat kesempatan ini untuk berkuliah tanpa harus merepotkan kedua orang tua ku sama sekali .
Seminggu kemudian aku mendapat kabar yang mengejutkan. Kepala sekolah ku menelpon dan memberi tahu ku bahwa aku lolos tes dan berhasil meraih beasiswa ke Belanda. Aku lalu memberikan kabar baik ini kepada kedua orang tua ku. mereka bersujud syukur bahagia. Akhirnya aku bergegas untuk memberesi berkas-berkas ku serta perlengkapan lainnya untuk ku bawa selama merantau ke negeri orang .
Hari keberangkatan ku pun tiba. orang tua ku membantu ku mengangkat koperku ke atas taxi, mereka ikut mengantar ku. selama dalam perjalanan, orang tua ku, terutama Ibuku memberi banyak nasihat agar aku berhati-hati dan selalu menjaga diri, serta belajar giat dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. aku terharu. Aku akan segera mengambil gelar Sarjana Teknik ku di Negeri Kincir Angin itu tanpa mempersulit orang tua ku, serta uang saku ku ikut ditanggung oleh beasiswa ku. aku merasa sangat beruntung, terimakasih Ya Allah...ucapku “aku berjanji setelah aku selesai kan study ku ini , aku akan kembali pulang untuk membangun Tanah Air ku ini”.. –SAC-
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hijab Bagi Muslimah

Oleh: Nurfitriyani Barokah Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kehi...