Oleh : Suci Amalia
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif
(HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
#JemputHidayahdenganDakwah
Jakarta ,29 Maret 2016 adalah hari yang tak terlupakan
bagi kami sekeluarga. Hari dimana
kehidupan kami berbalik 360 derajat menjadi sebuah mimpi buruk yang sungguh
berat ku terima, hari dimana perusahaan Ayahku bangkrut, semua aset perusahaan
tergadaikan, rumah, villa, mobil, Semua habis dijual untuk membayar hutang
Ayahku kepada Bank, Ibuku terus menangis merenungi nasib kami kedepan, aku coba
menenangkannya, tapi aku juga memikirkan entah bagaimana caraku melanjutkan
Pendidikan…
Saat ini, Aku, Nafisha Syafwi, berstatus sebagai
seorang pelajar kelas 12 di sebuah Sekolah
Menengah Atas, yang hanya dalam hitungan bulan akan
menjadi seorang Mahasiswi, yang
akan menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi untuk menerima gelar sebagai
seorang sarjana. Kejadian ini begitu menampar ku, membuat ku menahan pedih saat
membayangkan harapan dan cita-cita ku , aku lantas berpikir apakah ujian
seberat ini hanya diperuntuk kan bagi keluarga ku, “adakah
diluar sana orang yang bernasib sama seperti ku?” pertanyaan-pertanyaan
itu lalu hanya bisa kusimpan di bagian paling dalam dari lubuk hatiku, habis
bagaimana? jangan kan untuk menjawab pertanyaan ku, untuk memikirkan akan makan
apa kami besok pun orang tua ku sudah memutar otak setengah mati. Aku adalah anak
tunggal dikeluarga kecil ini, melihat keadaan orang tua ku , aku merasa ikut
bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan keluarga ku ini , namun apa daya
bahkan ijazah SMA pun belum kuterima, aku pun masih belum ikhlas jika harus
membuang jauh-jauh harapan ku untuk berkuliah, tetapi entah apa jawaban dari
ayah ku jika aku menanyakan masalah kelanjutan studi ku ini , bahkan untuk
membayangkan nya pun aku tak sanggup.
Hari ini, aku pergi kesekolah dengan berjalan kaki,
tak ada lagi mobil untuk mengantar ku , bahkan uang saku untuk naik kendaraan
umum pun tak ku miliki, air mataku hamper menetes…Dalam hatiku berkata “Sejak
kejadian itu, Ayah ku hanya bekerja serabutan dan bantu-bantu di sebuah tempat steam cuci mobil. Demi memperoleh rupiah untuk
kelangsungan hidup kami, karena aku
tidak memiliki seorang kakak ataupun adik , sehingga beban kami tidak begitu
banyak dan akupun tak bisa
membayangkan jika harus membagi kesedihan dan derita ini , rasanya biarlah
cukup aku saja”. Tak terasa sekolah ku sudah semakin dekat , akupun bergegas
masuk.
Sesampainya di kelas,
teman karib ku sudah lebih dahulu sampai dan duduk di kursinya, yaitu disebelah
ku. Yasmine namanya, dahulu dia sama seperti ku berasal dari keluarga yang
berkecukupan, tapi sekarang aku sudah tidak seperti itu lagi . Melihat ku berpeluh dan terlihat
sangat lelah dia bertanya ;
“ Naf ,
kenapa kamu gerah banget kayaknya ? AC mobil mu rusak atau gimana ?” ujar nya ..dia sama sekali tidak tahu apa
yang menimpaku ,
“ aku gak naik mobil ,
yas “, kujawab pertanyan nya dengan senyum
kecil dan menghela nafas panjang.
“hah ? kenapa ? lagi
rusak kah ? atau kamu ditinggal Ayah mu karena kamu kesiangan ? “ ia
terus mendesakku dengan pertanyaannya ..
“ nggak yas , aku sekarang sudah tidak punya mobil “ melihat ekspresiku yang berubah, Yasmine
memegang pundak ku, lalu berkata “ada apa
Naf? tolong ceritakan pada ku karena aku gak bisa melihat sahabat ku begini “ .
Setelah itu aku
bercerita pada nya tentang keadaan keluarga ku, setelah bercerita panjang lebar
Yasmine beberapa kali merespon ku dengan ucapan sabar dan semangat, dia juga
berkata bahwa pasti ada jalan untuk ku melanjutkan ke perguruan tinggi, selama
aku memiliki tekad yang kuat, motivasi darinya bisa ku terima .
Aku tahu bahwa kesempatan belum tentu
berpihak pada ku, tetapi tekad ku masih utuh tak luntur sedikitpun. Hari ini di
sekolah ku adalah jadwal untuk kami para siswa/i kelas 12 untuk mengikuti suatu
jalur untuk ke perguruan tinggi melalui nilai rapor, yaitu SNMPTN. Hanya 75%
siswa di sekolah ku yang mengikuti jalur tersebut, melalui seleksi nilai tentunya,
dan aku salah satu nya. Saat diberitahu oleh guru ku bahwa aku akan mengikuti
jalur SNMPTN, bimbang melanda hati ku, harus kah aku mengikutinya? tapi melihat
kondisi ekonomi keluargaku saat ini … huhh ntah lah??? ..
Wali kelas ku mulai menginstruksikan untuk
kami mengisi form SNMPTN yang berisi
jurusan serta perguruan tinggi yang akan kami pilih . ku lihat Yasmine memilih
jurusan Ilmu Keperawatan di suatu universitas ternama di Indonesia , lalu ku
mantapkan pilihan ku, aku memilih jurusan Teknik Sipil di universitas negeri
yang ada di Jakarta. Sejak kecil aku sangat ingin menjadi seorang Arsitek
wanita yang hebat, gambar ku pun banyak yang bilang bagus , aku suka mendesain
berbagai model bangunan yang ada di imajinasi ku lalu ku tempel dikamarku sebagai motivasi.
Sesampainya dirumah, aku menceritakan hal
tadi kepada Ibu ku , karena Ayah ku belum pulang ke rumah. Setelah mendengarkan
cerita ku, Ibu ku menampilkan senyum lebar nya, tapi raut wajahnya tak bisa
menyembunyikan kekhawatirannya pula, aku tahu itu.
“ wahh itu bagus , nak .
cita-cita mu tinggal selangkah lagi , ibu doa kan agar kamu berhasil lolos
seleksi tersebut . tapi nak , apa kamu sudah bicara pada ayah mu apakah ia akan
mengkuliah kan mu ? karena kita tahu bahwa keadaan sekarang sedang buruk..”,
Aku
hanya terdiam, wajah ku pucat, ternyata Ibu ku berpikiran sama seperti ku,
harapan ku nyaris hilang. tanpa berbicara lagi, aku langsung pamit untuk ke
kamar ku. aku berbaring lemas, menatapi gambar-gambar ku, huhh bagaimana ini…
keluhku dalam hati. lalu ku pejamkan mata untuk sekedar menghilangkan penat ku
untuk sesaat. Malam pun tiba, kulihat Ayahku sedang duduk di teras rumah, aku
menghampirinya, lalu aku berkata ;
“ayah , boleh aku bicara
sesuatu yang penting? “ ujar ku . “tentu saja , Naf mau bicara apa? “ . Lalu
aku menjawab serata menanyakan tentang kuliah ku , “ maaf Naf, sepertinya untuk tahun ini Ayah belum mampu untuk mengkuliahkan
mu, tapi Ayah janji, tahun depan kamu akan kuliah bagaimana pun caranya, Ayah
akan mengumpulkan uang ,nak. Ayah mohon maaf padamu sekali lagi “ . Ayahku
menjawabnya dengan nada ingin menangis, Aku tidak bisa berbuat apa-apa. aku
hanya menjawab “ iya Ayah tidak apa-apa.
Naf masuk kamar dulu, ya.” Ya, sejak saat itu hari-hariku sungguh sangat
bertambah suram, aku sudah ditetapkan oleh orang tua ku untuk tidak berkuliah .
Pengumuman
kelulusan pun tiba, sekolah ku mengadakan acara kelulusan angkatan ku di aula
gedung sekolah ku. Semua teman-teman ku datang bersama orangtua nya dengan
menggunakan mobil, tapi aku tidak iri sedikit pun . Saat kepala sekolah ku
mengumumkan hasil UN, sungguh sangat tidak disangka aku mendapat peringkat 3
besar yang meraih nilai UN tertinggi….,, dengan bangga aku maju ke atas
panggung untuk mengambil piala dan mendapat ucapan selamat dari para guru dan
kepala sekolah ku . kulihat kedua orang tua ku tersenyum bahagia , aku sungguh
merindukan senyuman itu . syukur lah.
Setelah hari itu , aku mendapat tawaran
dari kepala sekolahku untuk mengikuti tes beasiswa ke luar negeri yaitu
Belanda. Aku tentu sangat antusias dan mempersiapkan diri ku sebaik mungkin.
Hari tes pun datang, aku mengerjakan semua soal dengan sungguh-sungguh aku
sangat berharap mendapat kesempatan ini untuk berkuliah tanpa harus merepotkan
kedua orang tua ku sama sekali .
Seminggu kemudian aku mendapat kabar yang
mengejutkan. Kepala sekolah ku menelpon dan memberi tahu ku bahwa aku lolos tes
dan berhasil meraih beasiswa ke Belanda. Aku lalu memberikan kabar baik ini
kepada kedua orang tua ku. mereka bersujud syukur bahagia. Akhirnya aku
bergegas untuk memberesi berkas-berkas ku serta perlengkapan lainnya untuk ku
bawa selama merantau ke negeri orang .
Hari keberangkatan ku pun tiba. orang tua
ku membantu ku mengangkat koperku ke atas taxi, mereka ikut mengantar ku.
selama dalam perjalanan, orang tua ku, terutama Ibuku memberi banyak nasihat
agar aku berhati-hati dan selalu menjaga diri, serta belajar giat dan tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini. aku terharu. Aku akan segera mengambil gelar
Sarjana Teknik ku di Negeri Kincir Angin itu tanpa mempersulit orang tua ku,
serta uang saku ku ikut ditanggung oleh beasiswa ku. aku merasa sangat
beruntung, terimakasih Ya Allah...ucapku
“aku berjanji setelah aku selesai kan study ku ini , aku akan kembali pulang
untuk membangun Tanah Air ku ini”..
–SAC-
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar