Sabtu, 01 April 2017

Hati, Sabar dan Akal


Oleh : Muhammad Ichsan (Ketua Departemen PSDM)
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
 #JemputHidayahdenganDakwah

Oleh: Sanshiro
Apakah kita pernah memikirkan kenapa sih hati ini jika disakiti atau disinggung bisa terluka?
Apakah kita merasa rasa gelisah dihadapkan suatu masalah itu terkadang mengganggu?
Tentu kita, sebagai manusia normalnya pernah merasakan yang namanya tersinggung ketika dicibir oleh orang lain, gelisah ketika melakukan sesuatu yang tidaksemestinya, terlebih lagi rasa marah dan emosi ketika tertimpa masalah. Itu semua hal yang lumrah. Ibarat bagai sang air yang mengalir kesana kemari mengikuti arus dan siklus, naik turun, mengumpul dan berpencar, bisa berasa pahit mau pun manis tegantung dari apa yang kita masukkan ke dalamnya.
            Rasa gelisah, kecewa, tenang, bahagia yang ada di hati kita disebabkan karena manusia memiliki akal pikiran sebagai fitrah yang diberikan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dengan akal, manusia dapat mengetahui mana yang baik untuknya dan mana yang tidak. Gelisah karena tidak melaksanakan shalat, takut tidak dapat melaksanakan amanah, senang ketika mendapat rezeki, hal-hal itu berawal dari pikiran kita.
Bagaimana sih cara agar hati dan pikiran ini dapat tenang?
Bagaimana sih cara agar kita ini dapat sabar menghadapi berbagai cobaan?
Tanpa kita sadari jawabannya ada di sekeliling kita. Jawabannya sudah ditemukan sekian lama, yaitu dari kisah-kisah pada zaman Nabi dan Rasul, bahkan zaman setelahnya sampai sekarang.
Dari kisah Nabi Adam Alaihissalam, penyakit hati yaitu hawa nafsu dan dengki dapat menyebabkan Qabil membunuh adiknya, Habil. Dari kisah Nabi Musa Alaihissalam, kesombongan dapat menyebabkan Fir’aun mengaku sebagai tuhan, dan tatkala ia celaka. Dari kisah Nabi Nuh Alaihissalam, kita bisa mentauladani kesabaran beliau dalam berdakwah selama ratu santahun kepada kaumnya yang berpaling, beliau cemooh bahkan ditinggalkan oleh istri dan anaknya. Dari kisah Nabi Muhammad Sholallahualaihiwasallam yang bersabar ketika dilempari batu, diincar oleh kaum kafir quraisy yang menyebabkan beliau hijrah ke Madinah, dan banyak kisah lainnya seperti kisah para khulafaurrasyidin dan Bilal bin Rabbah.
Kenapa mereka bisa seperti itu? Dapat sabar menghadapi berbagai macam cobaan?
Jawabannya adalah karena dalam diri mereka sudah tertanam keimanan dan ketaqwaan yang mantap kepada  Allah Subhanahuwata’ala sehingga yakin bahwa Allah akan menolong mereka sehingga rasa takut dan gelisah pun hilang tertindih oleh dinding keimanan dan taqwa yang tebal.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman yang artinya:

“ Katakanlah (Muhammad) “Tidaka kan menimpa kami melain kanapa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang beriman.”
(Q.S At- Taubah (9)ayat 51)

Allah Subhanahuwata’ala juga tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kesanggupan dari hamba-hambanya. Dalam Firman Allah yang artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. …”
(Q.S. Al-Baqarah (2)ayat286)
Jadi untuk menjadikan hati dan pikiran ini tenang adalah dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Yakin bahwa Allah akan melindungi kita, yakin bahwa Allah member kita potensi untuk menghadapi segala cobaan, yakin bahwa ridho Allah lah yang kita butuhkan.
Di lain hal taqwa atau beriman kepada hal yang ghaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian harta yang kita miliki adalah kewajiban kita sebagai hamba Allah. Allah berfirman yang artinya:
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” 
(Q.S adz-Dzaariyaatayat 56)
            Kembali lagi kepada akal yang menjadi fitrah kita, bahwasannya Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, maka selaku hamba kita wajib taat dan patuh atas kewajiban-kewajiban kita. Akal kita pun tahu bahwa apa yang diwajibkan kepada kita adalah hal yang baik untuk kita, yaitu jalan untuk mencapai ridho-Nya.
Maka dari itu sebagai manusia yang berakal yuk sama-sama kita saling mengingatkan dan memotivasi untuk selalu menjaga hati, menjaga akal pikiran, meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita agar kita menjadi manusia yang beruntung, hamba yang di ridhoi oleh Allah Subhanahuwata’ala dan terhindar dari penyakit-penyakit hati maupun godaan setan, aamiin
Wallahua’lambishshawab.


Wa’alaykumussalam. Warrahmatullahi Wabarokatuh.

Cinta Tak Terbalas


Oleh : Putri Ayu Fernandita (Anggota Departemen FEST)
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
 #JemputHidayahdenganDakwah

Secarik kertas putih
Ditemani tinta disisinya
Keduanya menatap bulan..
Menanti tuan

Sang kertas kini menguning
Si tinta mengental
Keduanya menatap matahari..
Menunggu tuan

Kini kertas sudah melapuk
Tintapun mengeras retak
Keduanya menatap bintang…
Menanti tuan

Kertas dan tinta menangis
Menjadi diri mereka yang kini tak bernyawa
Keduanya menatap tuan…

Tuan pergi berpaling

RODA KEHIDUPAN YANG BERPUTAR


Oleh : Suci Amalia
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
 #JemputHidayahdenganDakwah

Jakarta ,29 Maret 2016 adalah hari yang tak terlupakan bagi kami sekeluarga.  Hari dimana kehidupan kami berbalik 360 derajat menjadi sebuah mimpi buruk yang sungguh berat ku terima, hari dimana perusahaan Ayahku bangkrut, semua aset perusahaan tergadaikan, rumah, villa, mobil, Semua habis dijual untuk membayar hutang Ayahku kepada Bank, Ibuku terus menangis merenungi nasib kami kedepan, aku coba menenangkannya, tapi aku juga memikirkan entah bagaimana caraku melanjutkan Pendidikan…
Saat ini, Aku, Nafisha Syafwi, berstatus sebagai seorang pelajar kelas 12 di sebuah Sekolah Menengah Atas, yang hanya dalam hitungan bulan akan menjadi seorang Mahasiswi, yang akan menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi untuk menerima gelar sebagai seorang sarjana. Kejadian ini begitu menampar ku, membuat ku menahan pedih saat membayangkan harapan dan cita-cita ku , aku lantas berpikir apakah ujian seberat ini hanya diperuntuk kan bagi keluarga ku, adakah diluar sana orang yang bernasib sama seperti ku?      pertanyaan-pertanyaan itu lalu hanya bisa kusimpan di bagian paling dalam dari lubuk hatiku, habis bagaimana? jangan kan untuk menjawab pertanyaan ku, untuk memikirkan akan makan apa kami besok pun orang tua ku sudah memutar otak setengah mati. Aku adalah anak tunggal dikeluarga kecil ini, melihat keadaan orang tua ku , aku merasa ikut bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan keluarga ku ini , namun apa daya bahkan ijazah SMA pun belum kuterima, aku pun masih belum ikhlas jika harus membuang jauh-jauh harapan ku untuk berkuliah, tetapi entah apa jawaban dari ayah ku jika aku menanyakan masalah kelanjutan studi ku ini , bahkan untuk membayangkan nya pun aku tak sanggup.
Hari ini, aku pergi kesekolah dengan berjalan kaki, tak ada lagi mobil untuk mengantar ku , bahkan uang saku untuk naik kendaraan umum pun tak ku miliki, air mataku hamper menetes…Dalam hatiku berkata “Sejak kejadian itu, Ayah ku hanya bekerja serabutan dan bantu-bantu di sebuah tempat steam cuci mobil. Demi memperoleh rupiah untuk kelangsungan hidup kami, karena aku tidak memiliki seorang kakak ataupun adik , sehingga beban kami tidak begitu banyak dan akupun tak bisa membayangkan jika harus membagi kesedihan dan derita ini , rasanya biarlah cukup aku saja”. Tak terasa sekolah ku sudah semakin dekat , akupun bergegas masuk.

Sesampainya di kelas, teman karib ku sudah lebih dahulu sampai dan duduk di kursinya, yaitu disebelah ku. Yasmine namanya, dahulu dia sama seperti ku berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi sekarang aku sudah tidak seperti itu lagi . Melihat ku berpeluh dan terlihat sangat lelah dia bertanya ;       
 “ Naf , kenapa kamu gerah banget kayaknya ? AC mobil mu rusak atau gimana ?”  ujar nya ..dia sama sekali tidak tahu apa yang menimpaku ,
“ aku gak naik mobil , yas “, kujawab pertanyan nya dengan senyum kecil dan menghela nafas panjang.
“hah ? kenapa ? lagi rusak kah ? atau kamu ditinggal Ayah mu karena kamu kesiangan ? “ ia terus mendesakku dengan pertanyaannya .. “ nggak yas , aku sekarang sudah tidak punya mobil “  melihat ekspresiku yang berubah, Yasmine memegang pundak ku, lalu berkata “ada apa Naf? tolong ceritakan pada ku karena aku gak bisa melihat sahabat ku begini “ .
Setelah itu aku bercerita pada nya tentang keadaan keluarga ku, setelah bercerita panjang lebar Yasmine beberapa kali merespon ku dengan ucapan sabar dan semangat, dia juga berkata bahwa pasti ada jalan untuk ku melanjutkan ke perguruan tinggi, selama aku memiliki tekad yang kuat, motivasi darinya bisa ku terima .
Aku tahu bahwa kesempatan belum tentu berpihak pada ku, tetapi tekad ku masih utuh tak luntur sedikitpun. Hari ini di sekolah ku adalah jadwal untuk kami para siswa/i kelas 12 untuk mengikuti suatu jalur untuk ke perguruan tinggi melalui nilai rapor, yaitu SNMPTN. Hanya 75% siswa di sekolah ku yang mengikuti jalur tersebut, melalui seleksi nilai tentunya, dan aku salah satu nya. Saat diberitahu oleh guru ku bahwa aku akan mengikuti jalur SNMPTN, bimbang melanda hati ku, harus kah aku mengikutinya? tapi melihat kondisi ekonomi keluargaku saat ini … huhh ntah lah??? ..
Wali kelas ku mulai menginstruksikan untuk kami mengisi form SNMPTN yang berisi jurusan serta perguruan tinggi yang akan kami pilih . ku lihat Yasmine memilih jurusan Ilmu Keperawatan di suatu universitas ternama di Indonesia , lalu ku mantapkan pilihan ku, aku memilih jurusan Teknik Sipil di universitas negeri yang ada di Jakarta. Sejak kecil aku sangat ingin menjadi seorang Arsitek wanita yang hebat, gambar ku pun banyak yang bilang bagus , aku suka mendesain berbagai model bangunan yang ada di imajinasi ku lalu ku tempel dikamarku sebagai motivasi.
Sesampainya dirumah, aku menceritakan hal tadi kepada Ibu ku , karena Ayah ku belum pulang ke rumah. Setelah mendengarkan cerita ku, Ibu ku menampilkan senyum lebar nya, tapi raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pula, aku tahu itu.
“ wahh itu bagus , nak . cita-cita mu tinggal selangkah lagi , ibu doa kan agar kamu berhasil lolos seleksi tersebut . tapi nak , apa kamu sudah bicara pada ayah mu apakah ia akan mengkuliah kan mu ? karena kita tahu bahwa keadaan sekarang sedang buruk..”,
Aku hanya terdiam, wajah ku pucat, ternyata Ibu ku berpikiran sama seperti ku, harapan ku nyaris hilang. tanpa berbicara lagi, aku langsung pamit untuk ke kamar ku. aku berbaring lemas, menatapi gambar-gambar ku, huhh bagaimana ini… keluhku dalam hati. lalu ku pejamkan mata untuk sekedar menghilangkan penat ku untuk sesaat. Malam pun tiba, kulihat Ayahku sedang duduk di teras rumah, aku menghampirinya, lalu aku berkata ;
“ayah , boleh aku bicara sesuatu yang penting? “ ujar ku . “tentu saja , Naf mau bicara apa? “ . Lalu aku menjawab serata menanyakan tentang kuliah ku , “ maaf Naf, sepertinya untuk tahun ini Ayah belum mampu untuk mengkuliahkan mu, tapi Ayah janji, tahun depan kamu akan kuliah bagaimana pun caranya, Ayah akan mengumpulkan uang ,nak. Ayah mohon maaf padamu sekali lagi “ . Ayahku menjawabnya dengan nada ingin menangis, Aku tidak bisa berbuat apa-apa. aku hanya menjawab “ iya Ayah tidak apa-apa. Naf masuk kamar dulu, ya.” Ya, sejak saat itu hari-hariku sungguh sangat bertambah suram, aku sudah ditetapkan oleh orang tua ku untuk tidak berkuliah .

Pengumuman kelulusan pun tiba, sekolah ku mengadakan acara kelulusan angkatan ku di aula gedung sekolah ku. Semua teman-teman ku datang bersama orangtua nya dengan menggunakan mobil, tapi aku tidak iri sedikit pun . Saat kepala sekolah ku mengumumkan hasil UN, sungguh sangat tidak disangka aku mendapat peringkat 3 besar yang meraih nilai UN tertinggi….,, dengan bangga aku maju ke atas panggung untuk mengambil piala dan mendapat ucapan selamat dari para guru dan kepala sekolah ku . kulihat kedua orang tua ku tersenyum bahagia , aku sungguh merindukan senyuman itu . syukur lah.
Setelah hari itu , aku mendapat tawaran dari kepala sekolahku untuk mengikuti tes beasiswa ke luar negeri yaitu Belanda. Aku tentu sangat antusias dan mempersiapkan diri ku sebaik mungkin. Hari tes pun datang, aku mengerjakan semua soal dengan sungguh-sungguh aku sangat berharap mendapat kesempatan ini untuk berkuliah tanpa harus merepotkan kedua orang tua ku sama sekali .
Seminggu kemudian aku mendapat kabar yang mengejutkan. Kepala sekolah ku menelpon dan memberi tahu ku bahwa aku lolos tes dan berhasil meraih beasiswa ke Belanda. Aku lalu memberikan kabar baik ini kepada kedua orang tua ku. mereka bersujud syukur bahagia. Akhirnya aku bergegas untuk memberesi berkas-berkas ku serta perlengkapan lainnya untuk ku bawa selama merantau ke negeri orang .
Hari keberangkatan ku pun tiba. orang tua ku membantu ku mengangkat koperku ke atas taxi, mereka ikut mengantar ku. selama dalam perjalanan, orang tua ku, terutama Ibuku memberi banyak nasihat agar aku berhati-hati dan selalu menjaga diri, serta belajar giat dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. aku terharu. Aku akan segera mengambil gelar Sarjana Teknik ku di Negeri Kincir Angin itu tanpa mempersulit orang tua ku, serta uang saku ku ikut ditanggung oleh beasiswa ku. aku merasa sangat beruntung, terimakasih Ya Allah...ucapku “aku berjanji setelah aku selesai kan study ku ini , aku akan kembali pulang untuk membangun Tanah Air ku ini”.. –SAC-
TAMAT

Apa Aku Pantas disebut Sahabat ?

                 
Oleh : Izzah Mubarokah (Sekretaris LDK As-Salam 27)
Editor : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
 #JemputHidayahdenganDakwah

Mulai hari ini, Aku akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang penting. Aku akan rajin mengeramas rambut, Aku akan rajin merawat wajah, Aku akan rajin membersihkan kamar, Aku akan bangun pagi-pagi, mandi cepat-cepat. Ternyata!! banyak hal yang harus Aku lakukan ya Ca ?  mungkin Aku  harus membuat list daftar supaya gak lupa.
Satu lagi wi ?
Iya aku tahu, Solat dan Tilawah jangan lupa kan ?

Aku mengenal Dewi mungkin lebih dari Aku mengenal diriku sendiri. Sejak SMA aku tinggal bersamanya di satu kontrakan yang sama sampai aku dan dia kini menginjak tingkat terakhir sebagai mahasiswa. Mungkin orang lain melihat kami berdua bagaikan seorang anak kembar yang tak bisa dipisahkan. Terlepas dari itu semua yang aku tahu Dewi adalah sahabat terbaikku,  Aku tahu siapa Dia, Aku tahu latar belakangnya yang tak pernah orang lain tahu. Dewi lahir dari seorang perempuan yang entah siapa Ayahnya, hidupnya begitu berantakan sebelum Ia mengenalku. Dia hanya butuh sahabat yang selalu mengingatkannya dan memberikan pelukan hangat pengganti Ibunya saat Ia mulai terluka. Mungkin akulah sahabat terbaiknya.
Malam ini terasa begitu berbeda, aku lihat Dewi begitu cantik malam ini. Bak seorang Dewi yang ingin bertemu Dewa nya. Senyumnya yang merekah dengan warna bibir yang begitu merah, harumnya menusuk hidungku sampai aku bersin di buatnya.
Mau kemana Wi ?
Tenang Ca, aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu lapor kemanapun aku pergi, toh kamu bukan ibuku ?
Kata itu selalu muncul dari mulut Dewi yang tak pernah kudengar sebulan lalu setelah Dewi membuat list daftar harian kegiatannya.
Ntah apa yang membuatnya berubah, aku tak berani menegurnya. Aku pikir perkataan Dewi benar bahwa kita sudah dewasa dan memang benar bukan tugasku lagi untuk terus mengingatkannya.
Dewi terus sibuk dengan Smartphone nya, Ia menjadi lebih rajin memegangnya. Tak biasanya Ia membuat password  di Smartphone nya dan Ia rahasiakan padaku. Setiap kali Ia mendengar ada pesan masuk, aku melihat senyumnya yang membuat pipinya memerah, tapi Ia umpat senyum itu setiap kali aku datang.
“OH, Cinta, jiwaku musnah dihangus api yang kau sulut di dalam diri. Semula kukira aku sudah mengenal api. Ternyata aku hanya tahu hangatnya lampu. Api yang ini berkobar tak terkendali. Tubuhku dibakar bara asmara. Tak kuasa aku memadamkannya. Kalau ini kegilaan, bukan aku yang memulainya. Tapi cintalah yang telah menyalakan sumbu kegilaanku tanpa rasa iba”.(anton kurnia, 2014 dalam novel magadir).
Wi status FB mu ?
Apa sih Ca, kan itu Cuma kutipan dari novel. Bukan berarti aku lagi kasmaran kan? Jangan su uzon terus kamu sama aku
Maaf Wi
Sejak saat itu aku putuskan untuk tak perlu tahu apa-apa mengenai Dewi. Aku biarkan Ia bermain dengan apa yang Ia suka dan apa yang ia mau, karna mungkin ini cara terbaikku untuk menjadi sahabatnya seutuhnya.

22:00 WIB, Dewi kok belum pulang ya, hmmmm perasaan ku gak enak. Aku coba telpon dulu deh.
“Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan”.
Perasaanku semakin tak karuan, ku tarik jaket yang menggantung di pintu lemari, kupakai jilbab sembarang yang ada dihadapanku, aku berlari sampai aku terlupa mengenakan alas kaki. Kucari Dewi disetiap sudut kota ini, tidak ada angkot yang beroperasi di malam hari. Aku ingat, aku dan dewi mempunyai tempat yang sering kami kunjungi saat kami merasa suntuk untuk sekedar mencari udara sejuk.
Ya, danau. Danau dibelakang kontrakan kita
Aku segera berlari sampai aku tak sadarkan diri aku menginjak paku yang menusuk kedalam kakiku ini. Tapi rasa itu tak sesakit rasa sesak dihatiku yang belum terlihat dimana dewi berada.
Dewi, aku berusaha ingin memanggilnya tapi suaraku tersedak di kerongkongan saatku mendengar tangisnya.
Dewi tersungkur menangis dibawah pohon dekat danau. Tak kulihat lagi raut senyumnya, baju yang indah dandanan yang begitu mempesona. Yang ku lihat sekarang hanya wajah sendu dan air mata yang terus mengalir diwajahnya.
Saat Dewi mengangkat wajahnya dan menyadari aku di depannya, Ia langsung memelukku dengan erat.
Maafin aku Ca, maaf aku gak pernah cerita apa-apa ke kamu. Aku berpikir bahwa cintanya akan membawaku dalam kebahagiaan. Karna aku baru tahu rasanya, aku berpikir aku gak akan memerlukanmu lagi, aku pikir ini cara terbaik yang aku ambil. Suaranya begitu berat dan memekik seolah ada beban berat di dadanya
Gak ada yang luka kan Wi?
Engga Ca, ternyata dia adalah perampok Ca, engga cuma hatiku yang ia rampok  tapi Ia merampok seluruh barang-barangku dan tasku, lalu Ia pergi meninggalkanku.  Aku malu untuk pulang Ca, aku malu menceritakan ini semua.
Aku yang jahat Wi, Apa aku pantas disebut sahabat ?
Saat aku tahu sahabatku berubah, aku membiarkanmu begitu saja.
Harusnya aku menegurmu, mengingatkanmu, menasihatimu meski itu menyakiti hatimu.
Harusnya aku mencegahmu berangkat dengan pakaian seperti itu, dengan bibir bergincu.
Harusnya aku marah membirkanmu keluar bak biduan yang ingin mengisi nafsu-nafsu lelaki hidung belang.
Harusnya aku biarkan kamu mengamuk padaku, memarahiku saat aku melarangmu. Karena aku masih bisa melihatmu baik-baik saja didalam kamarmu.
Apa Aku Pantas disebut Sahabat ?
Tamat

Sahabat yang baik bukan hanya sekedar sahabat yang bisa membuatmu senang
Yang bisa kau ajak nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, mentraktir makan, dan kesenangan-kesenangan lain yang Ia berikan.
Itu bukan sahabat...
Ketika Ia belum mampu menasihatimu dalam kebaikan
Ketika Ia masih membiarkanmu dalam keburukan
Karena sahabat sejati adalah sahabat yang jika melihatnya semakin bertambah iman di hati
Ketika Ia berbicara, yang terucap adalah sebuah perkataan baik yang menyejukkan diri
Saat kita berubah, dia orang pertama yang mengingatkan untuk kembali dalam dekapan Ilahi
Ini yang dinamakan sahabat Surgawi

Tulisan ini Ku  persembahkan :
Teruntuk sahabat-sahabatku yang selalu kucintai karena Allah.
Maaf jika aku masih belum bisa menjadi sahabat terbaikmu di dunia ini.

Tapi satu pintaku pada Allah, semoga kita bisa menjadi sahabat di Surga-Nya nanti.

Kamis, 23 Maret 2017

BUKU PANDUAN LOMBA MTQ DAN NASYID IFEST 2017

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Halo Para Pemuda,

Untuk memudahkan teman-teman dalam mengikuti lomba MTQ dan Nasyid pada acara Islamic Festival Trilogi (IFEST) 2017, berikut kami berikan buku panduan atau booklet dari masing - masing lomba. Silahkan klik link di bawah ini :

Lomba MTQ goo.gl/kVQB4d
Lomba Nasyid  goo.gl/ScLhys

Dan untuk pendaftaran melalui :
Form Pendaftaran Lomba MTQ goo.gl/nX9y7o
Form Pendaftaran Lomba Nasyid goo.gl/sHFmyK

Referensi Lagu :

Generasi Harapan – Izzatul Islam goo.gl/0MMhSH
Bingkai Kehidupan – Shoutul Harokah goo.gl/qysiLX
Kun Anta – Versi Indonesia  goo.gl/8qYFKS
Kita Da’i –UNIC goo.gl/i8jjpb
Doa Iman - UNIC goo.gl/U33kMP
Abege –Justice Voice goo.gl/UL9dxn


Semoga bermanfaat yaa, Selamat Berjuang dalam Lomba IFEST 2017. Jazakumullah Khair telah berpartisipasi dalam acara Islamic Festival Trilogi (IFEST) 2017.

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Best Regards,
LDK As-Salam Univ. Trilogi

Senin, 20 Maret 2017

BUKU PANDUAN LOMBA DESAIN DAN VIDEO IFEST 2017

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Halo Para Pemuda,

Untuk memudahkan teman-teman dalam mengikuti lomba Design dan Video pada acara Islamic Festival Trilogi (IFEST) 2017, berikut kami berikan buku panduan atau booklet dari masing - masing lomba. Silahkan klik link di bawah ini :

Lomba Design goo.gl/THSbrz
Lomba Video   goo.gl/n3BJHW

Dan untuk pendaftaran melalui :
Form Pendaftaran Lomba Design goo.gl/bLu392
Form Pendaftaran Lomba Video goo.gl/bf1fGG

Semoga bermanfaat yaa, Selamat Berjuang dalam Lomba IFEST 2017. Jazakumullah Khair telah berpartisipasi dalam acara Islamic Festival Trilogi (IFEST) 2017.

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Best Regards,
LDK As-Salam Univ. Trilogi

Jumat, 17 Maret 2017

MULIAKANLAH IBUMU



    
Gambar Ilustrasi antara Ibu dan Anaknya


Oleh : Marie Indah Alfinnur
Biro Al-Qolam
Departemen Humas Dakwah Kreatif (HDK)
LDK As-Salam
As-Salam 28
AL-Fatih Generation
 #JemputHidayahdenganDakwah


Assalamu’alaykum. Warrahmaullahi Wabarakatuh. Bagi anak, orang tua terdekat yang seharusnya dijadikan sandaran untuk mendapatkan kasih sayang. Terlebih seorang ibu. Allah menjadikan seorang wanita mulia dengan kedudukannya sebagai seorang ibu. Seorang ibu adalah manusia yang kerap kali menjadi tujuan kita bertumpu. Di saat sedih, di saat semangat, atau bahkan di saat butuh bantuan, ibu selalu ada untuk kita.

Seorang ibu, laksana malaikat yang dikirim Allah SWT kepada setiap anak. Melimpahkan kasih sayangnya, memberikan perlindungannya, dan melakukan segala pengorbanan demi kebahagiaan anak-anaknya. Tak terukur perjuangan seorang ibu di kala hamil, rasa sakit dahsyat yang dirasakan ketika melahirkan, serta kelelahan demi kelelahan yang dilakukannya demi memberikan yang terbaik untuk kita.
Maka wajarlah keika Rasulullah SAW menyebutkan nama ibu hingga tiga kali sebelum menyebut nama ayah saat ditanya siapa yang patut kita perlakukan dengan baik. Karena Allah SWt memberikan karunia kasih sayang padanya, telah memberikan segenap rasa itu pada anak-anaknya.

Dari sahabat Abu Hurairah radiyallhu ‘anhu beliau berkata, “ Datang seorang pria laki-laki kepada Rasulullah kemudian dia bertanya, “Wahai Rasulullah, ssiapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau bersabda, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau bersabda, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau bersabda, “Bapakmu.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika kita sakit, ibulah yang bangun sepanjang malam untuk memperhatikan kondisi anaknya, sementara sebagian bessar ayah bisa tertidur lelap di kala itu. Ibu bahkan ketika kita berniat membalas jasanya dengan emas segunung pun, tak akan mampu mengganti semua yang telah ia lakukan pada kita.
Bahkan sekeras apapun perjuangan usaha kita untuk ‘menyaingi’ semua yang dilakukan ibu kepada kita, semua itu tak akan menandingi sedikit pun yang dilakukan ibu pada anak-anaknya.
Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Kabah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”
Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).
Ibu, melaluinya kita bisa merasakan betapa besar kasih sayang Allah yang dimiliki bagi setiap hambaNya. Sungguh, sebesar apapun kasih sayang seorang ibu pada anaknya, pada dasarnya semua itu tak mampu melebihi kasih sayang Allah pada hambaNya.
Namun, apakah yang sudah kita lakukan untuknya? Ketika kita kecil, pelukan ibu adalah tempat paling nyaman dan menengkan di dunia, ketika kita beranjak remaja tak sedikit dsri kita yang merasa malu dengan keberadaannya, bahkan ketika dewasa dan berumah tangga, banyak juga yang merasa terganggu dengan keberadaannya dalam rumah tangga kita.

Bahkan setelah lelah dan segala pengorbanan yang ibu lakukan pada kita, kita malah membalasnya dengan anak kurang ajar, menjadikan ibu-ibu kita sebagai pengasuh bagi anak-anak kita, melimpahkan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai seorang ibu, lagi-lagi kepadanya.

Bahkan di masa senjanya, seorang ibu tak mengharapkan materi apapun dari anak-anaknya. Seorang ibu hanya mengharap anak-anaknya akan bahagia. Hanya itu. Sunguh tulus.

Seandainya, para wanita tahu betapa mulianya kedudukan seorang ibu, betapa indahnya surga yang dijanjikanNya bagi para ibu mulia. Sungguh, seandainya mereka mengetahuinya, maka dunia akan dipenuhi oleh para ibu penghuni surga.
Yukk kita perbaiki diri kita entah dari sikap, perbuatan, perkataan yang tidak menyenangkan kepada orang tua terutama pada ibu kita jangan pernah berhenti atau bosen untuk berbuat kebaikan sekecil apapun (sebesar biji dzarah). Waallhu’alam bishawab. Wassalamua’alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Hijab Bagi Muslimah

Oleh: Nurfitriyani Barokah Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kehi...