Sabtu, 17 September 2016

Kajian Keputrian As-Salam

🍃🍃🍃[Kajian Keputrian As-Salam] 🍃🍃🍃
Jumat, 16 September 2016
⏰12.00-13.00
============##########=============
Moderator 👸: Kak Dika Firdiyani (Ketua Keputrian As-Salam 27)
Pemateri 👸: Ustadzah Ari
============##########=============
Tema : Hijab Solidarity

Assalamu'alaykum wr. wb. 😊😊

Ikhwahfillah pada kesempatan membahas tentang Hijab Solidarity 
Now, lets say basmallah :) ✊🏼✊🏼✊🏼✊
Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Keakhwatan LDK As-Salam Universitas Trilogi

🌷Hijab solidarity atau sering di sebut IHSD (Internasional Hijab Solidarity Day)  merupakan salah satu momen bagi para wanita muslim di beberapa negara untuk mengampanyekan pemakian hijab di dunia. Pada awalnya, IHSD diprakarsai oleh para pemeluk Islam di empat negara, yakni; Perancis, Jerman, Tunisia dan Turki. Di negara tersebut para muslimah berhijab 👭👭 seringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan bahkan larangan untuk berhijab😱😨pada tahun 2002. Dan mereka merasa ga bebas ketika kaum muslimah disana memakai hijab. Oleh karena itu, IHSD sendiri memberikan penekanan pada makna kata Solidarity (solidaritas) yakni rasa senasib dan setia kawan.👭👭. Tapi kalau di Indonesia merupakan suatu anugerah dari Allah😄.

Point penting dalam memperingati IHSD
1. Penetapan tentang penggunaan hijab.
2. Hari peringatan Internasional Hijab.
Acara IHSD sebenarnya mempunyai makna yaitu dengan adanya perjuangan memakai hijab. 

Hijab bukan perintah manusia, temen atau siapapun. Tapi ini adalah perintah Allah melalui turunnya Al-Quran. Ada hal yang paling krusial dalam esensi 2 ayat dalam Al-Quran:

1. Q.S An-Nur : 31 

yang artinya "Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentalkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung". Asbabun Nuzul dari Q.S An-Nur:31, Hadhrami Ra meriwayatkan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang wanita yang mengenakan dua buah gelang kaki. Ketika berjalan di depan sekelompok orang, ia mengentakkan kakinya dengan maksud agar dua gelang kakinya berbunyi. (HR. Ibnu Jarir. Lihat Qurthubi: 6/4774)

Hikmahnya:

1. Taubat adalah wasilah untuk mencapai kemenangan.
2. Menetapkan adanya sebab dalam segala sesuatu.
3. Bukti perintah Allah untuk menutup dada, kecuali muka dan telapak tangan.

2. Q.S Al-Ahzab : 59 

yang artinya “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Asbabun Nuzul QS. Al-Ahzab : 59 Aisyah Ra memaparkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah turunnya ayat hijab. Suatu saat Saudah ra, salah satu istri Rasulullah SAW, keluar rumah untuk suatu urusan. 'Umar bin Khattab ra melihat Saudah ra dan bertanya, "Mengapa kau keluar rumah?" Saudah ra bergegas pulang. Ia menemui Rasulullah SAW dan berkata, " Rasulullah, aku keluar rumah untuk suatu urusan. Namun Umar menegurku." Atas hal itu, turunlah ayat ini. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kamu keluar rumah untuk suatu urusan." (HR. Bukhari)

Esensinya bukti kasih sayang Allah kepada wani muslimah karena Allah Maha Baik. Bukan sebuah paksaan tapi Allah memberi peringatan bagi yang mencintai hambaNya.

Ukhti Fillah sesungguhnya janji Allah itu Maha Benar. Sesungguhnya hijab adalah bahwa Allah memberikan hidayah, Inayah kepada wanita muslimah. Satu hal hijab butuh proses yang lambat lain tergantung orang karena iman kita seperti grafik terlihat fluktuasi. Maka bersyukurlah atas nikmat yang Allah berikan untuk berhijab. 

Yang belum berhijab semoga Allah memberikan hidayah dan digerakkan serta dibukakan hatinya yang lunak😄🙏🏻

Bagi yang sudah berhijab, mohon doanya semoga diberikan keistiqomahan, karena ini berkat Rahmat Allah.

 ﻳُﻮَاﺭِﻱ ﺳَﻮْﺁﺗِﻜُﻢْ ﻭَﺭِﻳﺸًﺎ ۖ ﻭَﻟِﺒَﺎﺱُ اﻟﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺧَﻴْﺮٌ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ اﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُﻭﻥ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
(QS. Al-A'raaf : 26)



Tugas kita sebagai kader penerus dakwah selanjutnya adalah merangkul yang merupakan bagian dari Istiqomah.
😊

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh😄😄😊

#AcaraAs-Salam
#DenganMabaAs-Salam28
#DepartemenKeakhwatan
#DepartemenSyiar
#BiroAl-Qolam
#As-Salam27
#KreatorPeradaban
#SpreadingKindnessWithDakwah

Minggu, 14 Agustus 2016

Syawal : Tidak Mengurai Lagi Pintalan Benang yang Sudah Kuat


 


Alhamdulillah, Innalillah, sudah sampai kita pada hari terakhir dalam Ramadhan penuh berkah ini. Antara gembira dan sedih, gembira karena sebentar lagi menemui kemenangan di ujung Ramadhan dan sedih karena sahabat yang menemani ibadah akan pergi meninggalkan kita.
Dan entah mengapa ada yang bilang, “Tak terasa ya, udah mau lebaran aja.” Padahal Ramadhan ini sungguh sangat terasa. Lapar dahaga dan tentunya sudah banyak rangkaian ibadah
Ramadhan yang kita jalani. Sahur, buka puasa, tilawah, kajian, tarawih, hingga bertahan itikaf sampai akhir ini. Semoga apa yang kita usahakan selama ini mencukupi untuk dapat mengagungkan nama Allah. Allah berfirman,
...Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(Q.S. Al Baqarah:185)
Ayat di atas menjelaskan bahwa kita harus tetap bertahan hingga sempurna pada akhir Ramadhan dan dapat menggapai kemenangan, bertakbir, mengagungkan nama-Nya. Namun, sebenarnya hakikat kemenangan itu tidak hanya sekedar mencukupkan bilangan Ramadhan hingga akhir. Kita harus kembali ke tujuan Allah menghadirkan Ramadhan untuk kita dan mewajibkan kita berpuasa di dalamnya. Tujuan yang semuanya sudah sering sekali mendengar, Taqwa. Kemudian mari kita lihat terminologi apa yang Allah pilih dalam akhir surat Al Baqarah ayat 183. Allah memilih diksi تَتَّقُونَ yang posisinya adalah sebagai filul mudhori.

Dalam Bahasa Arab, fi’lul mudhori’ adalah kata kerja kontinyu, dengan kata lain
sedang melakukan pekerjaan dan belum selesai mengerjakan pekerjaan tersebut. Maka, taqwa yang harusnya menjadi tujuan dari shoum ini adalah selepas Ramadhan berakhir, kita masih berjalan dengan pekerjaan taqwa kita pada Ramadhan, sedang melaksanakan taqwa kita, dan belum akan selesai dengan ketaqwaan kita.

Bulan Ramadhan ini adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan, bagi diri seorang mukmin. Kita disibukkan dengan ibadah-ibadah vertikal maupun horizontal dalam Ramadhan ini. Jangan sampai kita sudah kerja keras pada bulan ini, setelah bulan ini semua hilang begitu saja. Allah memberi perumpamaan dalam firman-Nya pada Surat An Nahl ayat 92,
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai…” (QS. An Nahl : 92)

Ayat di atas sebenarnya berkaitan dengan janji yang sudah berjanji dengan yakin kemudian membatalkannya. Namun, kisah yang dijadikan perumpaaan ini dapat menjadi analogi dalam perjuangan mengejar taqwa pada bulan mulia ini. Ayat tersebut mengkisahkan seorang nenek yang sedang merajut pakaian menggunakan benang. Hari per hari ia rajut sampai akhirnya pakaian tersebut selesai dengan rajutan yang sangat baik dan kuat. Kemudian pintalan benang yang telah menjadi pakaian itu diurai hingga berantakan semua. Sama halnya amalan kita di bulan Ramadhan, sudah kita usahakan semaksimal mungkin, tetapi ketika berakhir Ramadhan, berakhir pula amalan kita. Lelah, Sia-sia.

Syawal bulan awalan setelah bulan Ramadhan. Jika kita lihat arti dari syawal sendiri, syawal berarti peningkatan. Bulan syawal menjadi momen awal peningkatan ketaqwaan kita. Jika pada awal-awal tahun masehi orang-orang banyak membuat ‘resolusi tahun x’, mari kita juga buat ‘Resolusi Syawal’. Mungkin ini dapat menjadi terobosan peningkatan taqwa kita setelah Ramadhan usai. Resolusi Syawal bisa dilakukan dengan tetap menjaga amalan-amalan Ramadhan seperti tilawah dan qiyaamul lail. Dan sungguh sebenarnya bulan Syawal telah menyediakan fasilitas Resolusi Syawal yaitu puasa Syawal.

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Banyak amalan atau rencana lain yang dapat kita jadikan Resolusi Syawal versi kita. Mari Kita menuju taqwa sebenarnya salah satunya melalui Resolusi Syawal dengan “Tidak Mengurai Lagi Pintalan Benang yang Sudah Kuat.

Taqabalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum wa Ahalahullah Alaik. (Semoga amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu diterimaNya serta disempurnakanNya).
Jadikan Ramadan ini sebagai bulan bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan mencapai kemenangan yang hakiki. Semoga kita dibelebar panjang an barokah sehingga dapat dipertemukan lagi di bulan suci Ramadan tahun depan. Aamiin yaa robbal ‘alamin :)
Minal aidin walfaidzin. As’alukal afwan minal dzahiran wal bhinah, mohon maaf lahir dan batin.
Wallaahu a’lam bishshawab. Wabillahi taufik wa hidayah. Wassalamuaa’laykum. Wr. Wb .

Sumber : Puasa Syawal

Bantuan teks Quran : http://quran.com/

Oleh : Marie Indah Alfinnur

Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #KreatorPeradaban #SpreadingKindnessWithDakwah

Penghujung Waktu : Konsep Husnul Khotimah




Tidak beranjak dari masa lalu memang hal yang tidak baik, namun mengingat masa lalu bukanlah hal yang salah. Mari kita menengok sedikit saja ke belakang. Ke hari-hari di mana waktu menjadi semakin bermakna. Akui saja, kita sebagai muslim menjadi lebih akurat dalam mengingat waktu sholat, terutama subuh dan maghrib sebagai batas mulai dan berbuka puasa. Tidak hanya mengenai menit, tetapi juga hari semakin berarti. Meskipun mungkin tidak setiap hari, tetapi puasa yang berlangsung sebulan tidak dapat dipungkiri sangat terasa di awal dan di akhir. Di perjumpaannya dan di perpisahannya. Di awal menghitung-hitung baru sedikit sekali bulan puasa berlangsung. Hingga di akhir muncul kata-kata “tidak terasa ya” atau semacamnya. Di akhir, apalagi keistimewaan sepuluh malam ganjilnya pun semakin membuat kita menghitung-hitung berapa hari lagi menuju 1 Syawal yaitu hari Idul Fitri atau yang biasa disebut oleh umat Islam di Indonesia sebagai “Hari Lebaran”. Hanya tinggal esok atau lusa. Setelah beberapa hari lalu kita menggumam, tinggal beberapa hari lagi. Di sepanjang penghujung waktu, perasaan kita tentu bercampur aduk. Sebagaimana perpisahan pada umumnya, waktu-waktu menjelang perpisahan akan menimbulkan rasa bahagia dan sedih di saat yang bersamaan. Seperti beberapa waktu ini yang bertepatan dengan kenaikan kelas di sekolah. Naik tingkat dari SMA ke kuliah, sidang sarjana, ada kebahagiaan atas kerja keras yang akan mengantarkan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun ada kesedihan atas perpisahan dengan teman-teman seperjuangan, juga penyesalan atas ketidakmaksimalan dalam berbuat baik bagi diri sendiri dan sekitar.

Petikan-petikan hikmah terbanyak yang bisa diperoleh baik bagi adik-adik SMA yang akan kuliah maupun kakak-kakak sarjana yang akan menuju dunia pascakampus nya masing-masing tak jauh berbeda dengan kebersamaan kita dengan Ramadhan ini. Sama-sama memetik hikmah di penghujungnya. Sempat terbersit di pikiran saya mengapa banyak hikmah yang harus hadir di penghujungnya? Mengapa malam lailatul qadr yang lebih baik dari seribu bulan ditempatkan di akhir? Mengapa itikaf umumnya kebanyakan dilakukan di akhir? Mengapa ramai-ramainya Ramadhan, baik kekhusyuan ibadahnya maupun persiapan duniawi seperti makan khas lebaran dan baju baru-yang semuanya itu Insya Allah jika diniatkan bernilai ibadah-terjadi di akhir?

Kemudian saya teringat nama sebuah sekolah islam swasta berasrama. Bukan sekolahnya, tetapi namanya. Husnul Khotimah. Artinya, akhir yang baik. Jujur saya tidak ingat di ayat mana atau di hadits manakah adanya kata-kata tersebut karena selama ini seingat saya ungkapan tersebut saya dengar dari doa yang dipanjatkan baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Ungkapan ini menurut saya adalah sebuah konsep hidup yang begitu inti. Segala hal yang ada dalam hidup kita, bagi orang yang beriman pada hakikatnya adalah jalan, jembatan, bekal, persiapan, perantara, dan sebagainya menuju kehidupan akhirat. Dalam konsep husnul khotimah, yang menentukan nasib atau nilai adalah pada akhirnya. Adilkah? Jika seseorang pernah berbuat baik lalu menjadi jahat dan jika seseorang pernah berbuat jahat lalu menjadi baik, sekilas terlihat sama bukan? Apakah lantas kebaikan atau kejahatan di masa lalunya benar-benar musnah begitu saja? Sebermakna itukah perubahan? Jawabannya bisa jadi iya. Bukan tentang hitungan baik dan buruk yang diakumulasikan. Tetapi sebagaimana bertambahnya amal dapat berlipat ganda, terdapat pula hukum yang mengurangi atau bahkan menghapus. Seperti halnya aqidah, yang jika seseorang berubah aqidahnya, berubah agamanya, maka terhapuslah perbuatan aqidah sebelumnya, baik perbuatan baik (iman dan amal sholeh) maupun perbuatan buruk (dosa dan maksiat).

Bagi muallaf, segala dosanya terhapuskan dan ia suci sebagaimana bayi yang baru lahir. Bagi orang yang murtad, segala pahalanya terhapuskan. Sebegitu pentingnyalah iman dan seberbahaya itulah syirik. Tidak hanya itu. Sebagaimana kita menilai dan dinilai orang lain, hanya orang berpikiran sempit lah yang menilai sesama hanya berdasarkan masa lalunya. Riwayat memang penting, tetapi selama nyawa masih bersemayam di tubuh kita, bukan sebuah kemustahilan jika di penghujung hayat diri kita berbeda seratus delapan puluh derajat. Sebegitu pentingnyalah yang di akhir.
Kembali pada waktu, fenomena ramainya ibadah atau yang saya lihat sebagai meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat menurut saya dapat diterjemahkan sebagai persiapan menuju hari akhir. Sebagaimana kita menjemput hari kematian kita, menjemput hari akhir zaman, seperti itulah kita menjemput satu Syawal. Dengan cara yang bermacam-macam. Mobilitas meningkat dilihat dari ramainya masjid oleh kajian-kajian keislaman maupun rangkaian itikaf, juga ramainya pasar oleh produk-produk khas lebaran maupun diskon besar-besaran. Orang-orang berbondong-bondong keluar dari rumahnya. Di ujung dari penghujung pun tradisi masyarakat Indonesia memperlihatkan mobilitas yang luar biasa hebat: mudik.

Khas. Keren. Merakyat. Tiga kata itulah yang saya pikir pantas disematkan untuk fenomena penghujung Ramadhan atau menjelang Lebaran. Khas, karena banyak tradisi yang dimiliki atau hanya ramai semarak di Indonesia. Seperti pawai Ramadhan, buka bersama, ta’jil dan sahur on the road, mudik, dan lain-lain yang begitu subur di Indonesia. Keren, dalam sudut pandang sebagai penuansaan syiar Ramadhan. Sebagai penghormatan. Sebagai penjiwaan. Merakyat, karena hampir seluruh orang merayakannya. Baik yang kaya maupun yang miskin, Ramadhan menghasilkan upaya pemerataan kebahagiaan. Meskipun tentu tidak akan rata dan tidak dapat diukur, meskipun tentu tetap ada yang berduka, namun dengan zakat, infaq, sedekah yang menyebar dan harga barang yang bervariasi, setidaknya secara umum setiap orang ’memaksakan’ dirinya untuk mengisi penghujung Ramadhan dan menyambut Idul Fitri dengan sebaik-baiknya.  “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan memohon ampunlah kepada-Nya.” Teringat Al Quran surat An Nasr ayat dua. Dulu, saya sempat terheran ketika membaca terjemahan surat ini. “Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan”, begitu ayat sebelumnya. Saya memikirkan rangkaian kata: memohon ampunlah kepada-Nya. Memohon ampun atas pertolongan dan kemenangan? Mengapa? Kemudian diakhiri dengan, “Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat”. Tak dipungkiri lagi, kata istighfar yang dimaksud adalah untuk bertaubat. Bertaubat atas pertolongan Allah dan kemenangan? Setelah saya membaca tafsirnya dari Tafsir Fii Zhilalil Quran, dijelaskanbahwa kemenangan yang dimaksud adalah atas peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Mekkah. Makna istighfar tersebut adalah memohon ampun kepada Allah, karena banyaknya perasaan yang bercampur aduk di dalam jiwa, yang begitu rumit dan halus jalan masuknya. Juga beristighfar dari rasa bangga dan sombong yang terkadang mengiringi kalbu atau menyelinap ke dalam hati atas kemenangan yang diraih karena sejatinya kemenangan mereka adalah atas pertolongan Allah.

Astaghfirullah. Untuk penyia-nyiaan waktu di awal Ramadhan. Untuk fluktuasi iman yang lebih banyak turun daripada naiknya. Untuk ibadah vertikal yang dilakukan sendiri ketimbang mengajak sesama. Untuk ibadah duniawi yang terkadang masih terombang-ambing niatnya. Untuk semangat yang hanya membara di perapian pribadi, juga untuk semangat yang mungkin tak kunjung membara hingga di akhir.

Satu Syawal. Lebaran. Idul Fitri. Bagaimanapun kita menyebutnya, semoga sebulan yang penuh rahmat dan berkah ini menjadi titik balik kita semua, bersama, menjadi pintu akselerasi untuk lebih memaknai arti hidup yang sebenarnya. Tak ada kata terlambat untuk mencintai. Cinta di penghujung waktu mungkin akan mengantarkan kita pada awal yang lebih baik. Cinta yang tersebab kepergiannya justru membuat kita semakin kuat. Sebelas bulan selanjutnya lah yang kemudian menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di awal tadi. Apakah cinta kita setulus itu? Apakah kita mencintainya dengan niat dan cara yang benar? Sehingga kita pantas untuk kembali suci?


Taqabalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum wa Ahalahullah Alaik. (Semoga amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu diterimaNya serta disempurnakanNya).
Jadikan Ramadan ini sebagai bulan bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan mencapai kemenangan yang hakiki. Semoga kita dibelebar panjang an barokah sehingga dapat dipertemukan lagi di bulan suci Ramadan tahun depan. Aamiin yaa robbal ‘alamin :)

Minal aidin walfaidzin. As’alukal afwan minal dzahiran wal bhinah, mohon maaf lahir dan batin.
Wallaahu a’lam bishshawab. Wabillahi taufik wa hidayah. Wassalamuaa’laykum. Wr. Wb .


Oleh : Marie Indah Alfinnur
Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #KreatorPeradaban #SpreadingKindnessWithDakwah



Sabtu, 28 Mei 2016

Ramadhan Dimensi yang Mempertemukan


Curahan ayat-ayat Allah yang bagaikan hujan bagi hati kami
Menghasilkan harapanakan tumbuhnya cinta yang akan terus tumbuh dan merekah
Namun akankah cinta itu sampai dan berbalas?

Nisfu Sya’ban semakin mengingatkan kami
Bahwa hanya dengan kuasaNya lah kami dapat menjumpaimu
Bahwa hanya dengan kuasaNya lah kami dapat membersamaimu
Bahwa hanya dengan kuasaNya lah kami dapat mengarungi rintangan dalam dimensi waktu

Menghidupimu sebagai bentuk cinta kami, yang semoga cinta kami sampai kepadamu
Mengarungi dimensi waktu, menyambut dan membersamaimu,Ramadhan

Drugug Dug....
Sadar atau tidak, seringkali kita lupa mendongak, melihat bagaimana awan berarak. Bagaimana langit berganti rupa, terang gelap sesekali jingga. Atau...
Memicingkan mata dan menyadari kehadiran orang-orang di sekitar kita. Dipenghujung siklus akademika,  yuk kita maksimalkan ukhuwah sesama kita, sembari mlihat seja sambil mentadabburinya.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amalan apa yang sangat dicintai oleh Allah?”, Rasulullah SAW menjawab, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara konsisten, walaupun sedikit”.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Temen-temen semua, amalan yang konsisten ini merupakan salah satu, amalan dari banyak amalan lain dicintai Allah. Seperti hujan yang terus-menerus membasahi bumi dan menumbuhkan sayur-sayuran dan bunga-bungaan.

Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah menggapai berkah-Nya. Aamiin
H-15 Ramadhan 1437 H.


Waallhu’alam bishowab. Wabillahi taufik wa hidayah. Wassalamuaa’laykum. Wr. Wb 


Oleh : Marie Indah Alfinnur
Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #SpreadingKindnessWithDakwah

HIKMAH PERJALANAN AGUNG ISRA MI’RAJ


Assalamu’alaykum Wr. Wb Ikhwahfillah atau temen-temen semua? Gimana kabarnya? Pie kabare? Kumaha damang? Hehe semoga sehat dan sukses ya kuliahnya Aamiin. 

Hari Rabu tepatnya tanggal 4 Mei 2016 Lembaga Dakwah Kampus (LDK) As-Salam bersama DKM mengadakan acara Isra’ Mi’raj di Perpustakaan As-Salam, dan di Mesjid As-Salam Universitas Trilogi untuk seluruh civitas akademika (Para dosen, staf, dan mahasiswa lainnya) Universitas Trilogi, dengan pembicara sesi pertama oleh Ustadz Kalamullah, sesi kedua dan ketiga sharing oleh Ketua UKM As-Salam (Hermawan Sulistio) . Adapun materi yang disampaikan mengenai tentang Hikmah Perjalanan Agung dengan Isra’ Mi’raj.

Tidak semua Nabi diberikan Allah SWT mu’jizat yang menakjubkan; melawan hukum alam yang dapat dilihat langsung oleh ummatnya dengan mata telanjang. Ada Nabi Musa AS dengan tongkatnya bisa membelah lautan, atau Nabi Isa AS yang bisa menghidupkan orang mati, dan lain-lain. Namun, ada juga Nabi yang tidak banyak dikaruniakan mu’jizat yang mencengangkan. Di antaranya adalah Nabi Muhammad SAW yang justru mu’jizat utamanya adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an menakjubkan, tapi tidak dengan cara yang sama dengan mu’jizat Nabi Musa atau Isa. Selain Al-Qur’an, mu’jizat Nabi yang lain adalah berupa diperjalanankannya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, hingga kemudian diperjalankan ke Sidratul Muntaha. Tentunya ini diluar nalar orang pada waktu itu. Namun, itulah yang namanya mu’jizat.

Berawal dari Permintaan Kaum Quraisy kepada Nabi SAW

Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah SAW untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Nabi. Hal ini direkam oleh Allah dalam Al Qur'an sebagai berikut:

“Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. (QS. Bani Israil : 90 - 93)

#Selembar Madani, Memetik Hikmah Perjalanan Agung Isra Mi’raj

Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sebenarnya sangat mempesona, tapi kekafiran membutakan mata hati mereka dan mereka mengajukan permintaan yang bisa dilihat mata telanjang. Rasulullah SAW sendiri menjawabnya dengan bijaksana, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Bani Israil: 93). Allah Yang Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah SAW mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul, sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.

Isra’ Mi'raj sebagai Hiburan untuk Nabi

Di tahun ke-10 Kenabian, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam karena beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah dan juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib. Keduanya adalah sosok pendukung dakwah Nabi yang luar biasa. Dalam keadaan yang duka cita lalu Allah “menghibur” Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit dan menerima perintah sholat secara langsung dari Allah. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Isra’ Mi'raj.

Dalam Al Qur'an, dari 6.236 ayat, hanya ada 4 ayat yang menjelaskan tentang Isra’ Mi'raj, yaitu QS. Bani Israil ayat 1, dan QS. An Najm ayat 13, 14 dan 15.

Mengapa Masjidil Aqsa?

Mungkin ada yang bertanya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya, antara lain:

1.           Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad SAW, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berdak'wah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berdakwah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan “golongan” Ibrahim dan merupakan sempalan.

2.          Hikmah berikutnya adalah, Allah SWT dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsa adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai “pembangkit” ruhul jihad kaum muslimin.
Memahami Isra’ Mi’raj

Dalam memahami peristiwa Isra’ dan mi’raj, para ahli akal dan logika harus berpikir dengan logika keimanan dimana meyakini buat Allah SWT tak ada yang mustahil, bahkan otak mereka saja adalah ciptaan Allah. Keimanan kita sebagai Muslim benar-benar dituntut terhadap kebenaran peristiwa ini, karena memang peristiwa tersebut sangat berat untuk diterima oleh akal. Hanya melalui keimanan yang teguh maka peristiwa ini bisa diterima. Karena Isra’ Mi’raj adalah satu perjalanan Ilahiyah (perjalanan yang didasari pada kemauan dan kehendak Allah SWT) dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi mukjizat dan lambang kebesaran dan kemuliaan Rasulullah SAW dan hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi setelah Rasullah SAW.

Logika keimanan inilah yang dicontohkan oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Abu Bakar tetap memiliki keutuhan keyakinan meskipun peristiwa tersebut terjadi diluar batas logika manusia.
Redaksi ayat Allah pada QS. al-Israa ayat 1, Allah SWT telah mengawali dengan kalimat ‘Subhaana’ (bahasa arab) artinya “Maha Suci (Allah)”. Sebenarnya masih banyak kata pujian yang bisa digunakan, namun kalimat ‘Subhaana’ ini telah menunjukkan bahwa Dzat yang akan menjalankan hamba-Nya di waktu malam tersebut adalah ‘Dzat yang Maha Suci’. Maka ‘Perjalanan Suci’ atau perjalanan Ilahiyah ini akan diberikan kepada jiwa yang suci pula. Beliaulah baginda Rasulullah SAW.

Seterusnya ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat ‘Asraa’ (bahasa Arab) yang artinya ‘men-jalan-kan’.  Kata ‘men-jalan-kan’ membuktikan bahwa dalam peristiwa tersebut ada yang sifatnya ‘aktif’ dan ada yang bersifat ‘pasif’. Dalam peristiwa ini Allah SWT bersifat aktif, sedangkan Rasulullah SAW bersifat pasif. Karena Allah SWT bersifat aktif, maka apapun yang diinginkan dan dikehendaki oleh Allah SWT termasuk dalam perkara ‘men-jalan-kan’ hamba-Nya (Muhammad SAW) secara ruh dan jasad, itu semua bisa saja terjadi atas izin-Nya, dan kita tidak perlu lagi untuk mengingkarinya. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri yang sifatnya pasif tidak pernah berencana untuk melakukan Isra’ dan Mi’raj tersebut. Allah SWT yang punya kehendak. Kalau Allah SWT yang punya kehendak, maka tidak ada yang mustahil di sisi-Nya.

Penutup

Setiap tahun, kebanyakan ummat Islam di Indonesia memperingati peristiwa agung ini dengan berbagai macam aktivitas. Akan tetapi adalah sia-sia jika kita umat Islam mengadakan peringatan Isra’ dan Mi'raj setiap tahunnya, jika kemudian tidak mampu mengambil hikmah dari kisah ini. Adalah sia-sia jika memperingati tapi melalaikan keagungan Allah SWT. Adalah sia-sia jika pesan sholat yang Nabi Muhammad SAW terima secara langsung dalam peristiwa agung tersebut, tidak lakukan dengan berkualitas, khusyu’ dan tuma’ninah.

Yuk kita sama-sama menyelami dalamnya lautan hikmah dari setiap mukjizat Allah kepada para Nabi-Nya. Semoga kita kembali kepada kebenaran yang merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah, segeralah terus bermuhasabah diri, meningkatkan amal-amal kebaikan yang tiada henti, dan bertaubat kepadaNya.
 
Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaykum. Wr. Wb.
Allahu akbar !



Oleh : Marie Indah Alfinnur
Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #SpreadingKindnessWithDakwah
 

Kamis, 05 Mei 2016

Fitnah, Nikmat, dan Siksa Kubur

         
  Assalamu’alaykum Wr. Wb Ikhwahfillah atau temen-temen semua? 

Bagaimana kabarnya? Pie kabare? Kumaha damang? Hehe semoga sehat dan sukses ya kuliahnya juga Aamiin. 

Hari Jumat tepatnya tanggal 25 Maret 2016 Lembaga Dakwah Kampus (LDK) As-Salam dan FSLDK Jaksel mengadakan acara Jalatsah Rukhiyyah Madrasah Solihah di Perpustakaan As-Salam Universitas Trilogi untuk peserta khusus Akhwat, dengan pembicara Ustadzah Yennie Kurniawati. Adapun materi pertama tentang Fitnah, Nikmat, dan Siksa Kubur.


 Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18)

Momen akhir tahun hendaknya diisi dengan cara dan acara muhasabah (introspeksi diri). Muhasabah atau menghisab (menghitung) diri merupakan cara terbaik yang telah dicontohkan dan teladan terbaik, yakni Nabi Muhammad SAW. Dalam muhasabah, setiap mukmin dituntut untuk melihat segala amalnya, entah itu amal yang buruk, maupun amal yang baik. Melihat amal-amal yang buruk tentu dengan tujuan agar di waktu yang akan datang tidak akan mengulanginya lagi. Sebaliknya, melihat segala amal baik bertujuan untuk terus meningkatkan amal kebaikan itu. 

Muhasabah (evaluasi), sangat diperlukan oleh seorang muslim. Sebab dengan muhasabah, seorang muslim bisa meningkatkan kualitas amal kebaikannya dan melupakan segala keburukan masa lalu dan memohon ampunan Allah SWT. Karena itu, muhasabah sudah seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pribadi seorang muslim, seperti yang ditegaskan dalam ayat di atas. 

 Umar bin Khattab ra, seorang khalifah dari kalangan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, pernah mengingatkan umat Islam dengan perkataannya yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu” Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. 

         Seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus memperhatikan, bahwa tak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tak tertutup bagi dirinya. Allah SWT berfirman, “ Sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu kaum, sehingga mereka merubah keadan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ra’d: 11). 

               Dalam perjalanan manusia terdapat 4 alam, yaitu; alam ruh, alam rahim dan dunia, alam maut dan kubur, alam akhirat, serta kembali kepada Allah SWT. Alam ruh adalah alam yang disaksikan oleh Robb-Mu sebelum manusia turun menginjak bumi. Alam rahim dan dunia yang berarti Allah telah meniupkan ruh untuk membentuk janin hingga bayi yang lahir ke bumi Allah SWT dan telah ditentukan rezekinya, jodohnya, ajalnya, kehidupannya. Hidup di dunia hanyalah sementara, yang kekal atau abadi adalah kehidupan akhirat. Banyak tantangan yang harus dijalani dalam mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Di dalam kehidupan tentu ada pilihan melakukan amal kebaikan atau keburukan. Setelah melakukan hal apapun pasti ada balasannya. Namun, setiap dari kita tidak bisa memprediksi kapan dan dimana ajal akan menjemput, yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal terbaik untuk bertemu Allah SWT. 

Ketika manusia telah meninggal  yang disebut kehidupan alam barzah. Tiada yang tahu soal kelahiran, kematian, kiamat terjadi kecuali hanya Allah yang mengetahuinya. Sesudah itu datanglah alam akhirat, dimana setelah semua kehidupan ini musnah akan ada Allah bangkitkan kembali dan dikumpulkan dalam suatu Padang Masyar. Setiap manusia akan mempetanggungjawabkan apa yang telah dilakukan di dunia dan mendapatkan balasan sesuai amalnya. 

             Manusia setelah meninggal dalam kubur pasti ada yang disebut fitnah kubur, nikmat kubur, dan siksa kubur. Fitnah kubur yang berarti pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kepada orang telah meninggal setelah dia dikuburkan. Yang ditanyakan adalah tentang RobbNya , agamanya, nabinya. Untuk memperkokoh jawaban kita sebaiknya di dunia menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Ada dua golongan yang pertama golongan orang mukmin/mukminah/muslim/muslimah yaitu mereka taat perintahNya, melakukan amal kebaikan yang tiada henti sehingga golongan ini Insya Allah masuk surgaNya karena lebih tahu jawabannya. Sedangkan, golongan kedua yaitu golongan munafik yang jawabannya ragu atau tidak tahu ketika ditanya oleh kedua malaikat tersebut. Setelah timbul pertanyaan dan jawaban di alam barzah tentu ada balasannya yaitu antara nikmat kubur dan siksa (adzab) kubur. 

 Nikmat kubur seseorang adalah nikmat yang jujur  dalam keimanannya, biasanya telah menjawab pertanyaan malaikat  Munkar dan Nakir. Orang yang mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat ganda pahalanya. Karena ruh mereka disebut ruh mukmainah yang berarti ruh yang lembut, karena mereka mengimani rukun iman dan jiwa mereka adalah jiwa yang lembut seperti tetesan air dari sebuah bejana. Jika meninggalnya pada hari/malam Jumat lebih baik karena tidak tersiksa bagi orang yang beriman termasuk para syuhada. 

Sebaliknya, adzab atau siksa kubur yaitu untuk orang-orang yang tidak beriman, kafir dan munafik. Adzab kubur dalam QS. At- Taubah : 101 dimana yang berisi tentang  adanya adzab kubur (siksa kubur) sebanyak dua kali yaitu adzab dunia dan adzab akhirat. Azab yang sangat dekat yaitu adzab kubur yang tertera dalam QS. As-Sajadah : 21. Na’udzubillah min dzalik. Semoga kita kembali kepada kebenaran yang merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah, segeralah terus bermuhasabah diri, meningkatkan amal-amal kebaikan yang tiada henti, dan bertaubat kepadaNya.

Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaykum. Wr. Wb.
Allahu akbar ! 
      


Oleh : Marie Indah Alfinnur
Departemen Syiar Biro Al-Qolam LDK As-Salam
As-Salam 27 #SpreadingKindnessWithDakwah


Rabu, 03 Februari 2016

HIJAB WORLD DAY “GERAKAN MENURUT AURAT”


Duhai salihat: 
“Jadikan hijab sebagai Pancaran Imanmu, 
Memperkokohkan Keistiqomahan Ibadahmu untuk Memperindah Akhlakmu.”

Sudah cheklist hijabmu hari ini ??
ü  Niatkan karena Allah semata
ü  Menutup dada
ü  Tidak ketat/longgar
ü  Tidak transparan/tebal
ü  No punuk unta
ü  No tabaruj (berdandan)
ü  No memakai wewangian berlebihan
ü  Tidak menyerupai suatu kaum

Wahai Nabi!Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmim, “Hendaklah mereka menutupi jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab : 59)

            Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan semesta alam. Departement keakhhwatan LDK As-Salam Universitas Trilogi telah selesai menyelenggarakan acara “Hijab World Day, Gerakan Menutup Aurat, Tukar Hijab Syar’i & Hijab Chalange”. Yang telah diselenggarakan pada Sabtu, 30 Januari 2016. Acara ini diadakan untuk memperingati hari Hijab Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Februari. Meskipun lebih cepat H-2 dari hari hijab sebenarnya,  acara ini alhamulillah berjalan dengan lancar dan antusiasme mahasiswi Universitas Trilogi sangat luar biasa untuk mengikuti challange ini.

            Sebelum menelisik keseruan hijab world day ini, jangan lupa kita baca dulu sejarah terbentuknya hari hijab sedunia yang menjadi alasan Departement keakhwatan membuat acara ini. Let’s read the history.

“ Peringatan perdana Hari Hijab Sedunia dimulai tanggal 1 Februari 2013 oleh warga New York. Pencetus pertama adanya peringatan ini adalah Nazwa Khan. Ide awalanya sederhana, yakni mengajak perempuan non-Muslim untuk mengenakan hijab. Dari ide sederhana itu, gerakan tersebut mulai mendapat simpati dan apresiasi.

Dari latar belakang kelahirannya, hari Hijab Sedunia datang dari negara Amerika. Negara yang memiliki sedikit populasi Muslim. Padahal  di negara tersebut, ada pandangan yang menyebut bahwa Hijab merupakan perampasan hak asasi kalangan perempuan. Tak heran Hijab menjadi sasaran empuk pihak-pihak yang tidak paham ajaran islam.

Hasilnya, muslimahpun menjadi korban serangan Islamphobia. Mulai dari pelecehan, makian, rasis, dan lainnya. Muslimah AS tentu sadar dengan posisinya itu, dan memiliki kewajiban untuk meluruskan apa yang salah tentang Hijab yang mereka kenakan.

Nazma Khan, yang memiliki pengalaman itu, tahu betul bagaimana agar sebagian warga AS paham soal Hijab. “Saya besar dan tumbuh di Bronx, New York. Saya mengalami banyak diskriminasi karena Hijab yang saya kenakan,” Kata Nazwa dilansir Worldhijabday, senin (2/2).

Nazma mengaku, selama disekolah banyak julukan yang aneh karena Hijab yang dikenakannya. Misalnya, batman atau ninja. Situasi ini tidak berubah ketika Ia menjejakan kaki di bangku kuliah. Saat kuliah Nazma mendapat panggilan Osama.

“Itu panggilan yang mengerikan. Saya pikir, satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi ini adalah meminta kalangan non-Muslim untuk mengenakan Hijab,” Ucapnya.

Nazma tidak menyangka, idenya itu akan mendapatkan dukungan dari seluruh dunia. Dia mengaku telah dihubungi oleh puluhan orang dari berbagai negara, termasuk Inggris, Australia, India, Pakistan, Prancis dan Jerman.

Peringatan yang diorganisir oleh seorang perempuan asal New York Nazma Khan, dan disebarkan melalui situs jejaring sosial ini telah menarik perhatian Muslim dan non-Muslim di lebih dari 50 negara diseluruh dunia.

Bagi banyak orang, hijab merupakan simbol penindasan dan perbedaan dan menjadi perdebatan mengenai Islma di negara-negara Barat. Hari Hijab Sedunia dirancang untuk meredakan kontroversi itu, dan mendorong perempuan non-Muslim atau Perempuan Muslim yang belum menggunakan Hijab. Untuk menggunakan dan mengalami seperti apa menggunakan Hijab, sebagai bagian dari upaya untuk saling memahami”.

Itulah sekilas kisah sebelum Hijab Challange di Universitas Trilogi disosialisasikan.

Acara ini berlangsung pada pukul 08.00 WIB, yang bertempat di depan Lobby Perpustakaan Universitas Trilogi. Seperti yang di lakukan Nazwa atas keberaniannya, akhwat As-Salam menjadi terinspirasi untuk memakaikan hijab kepada kalangan non-Muslim dan teman-teman muslim yang belum berhijab, tidak hanya itu rangkaian acara ini juga membagi hijab kepada saudara-saudara muslim yang belum berhijab maupun yang belum berhijab syar’i. Mengajarkan tutorial berhijab syar’i, dan memberi challange kepada teman-teman yang belum berhijab untuk mengenakan hijab dalam satu hari.

Berikut testimonial beberapa sahabat kita yang mencoba menggunakan hijab syar’i.

Dari 
  •  @andhininuhita : merasa lebih sempurna dalam berhijab
  • @khoirouf : merasa lebih cantik, dan alhamdulillah lebih nyaman
  • @kardinamhr : lebih tertutup dan lebih terjaga
  • @latifahalkaff : lebih rapih, tertutup, dan gak ribet
Sebenarnya masih banyak testimonial dari temen-temen mahasiswi unversitas trilogi setelah menggunakan hijab syar’i. Rata-rata mengatakan lebih nyaman, dan pastinya menutupi bagian-bagian yang memang seharusnya harus kita tutup dan jaga.

Bagaimana sudahkah siap untuk menjadi cantik sesuai syar’i ??

Acara ini selesai pada pukul 12.00 WIB, diluar dugaan jam target. Semangat mahasiswi Universitas Trilogi untuk mencoba tantangan ini sangat luar biasa, semoga bisa tetap istiqomah ya Ukhtifillah, aamiin..

Ingat kawan hijab bukanlah pembatas, tapi hijab adalah bukti cinta Allah, dan cara Allah melindungi kita dari bahaya.
HIJAB WORLD DAY “GERAKAN MENURUT AURAT” Participants :





For Download :
 All Documentation : Hjiab World Day


Ditulis Oleh : Dheanisya Qausarina Aida (Biro Al-Qolam LDK As-Salam)
Deisgn by : LDK ASSALAM

Senin, 01 Februari 2016

Aku Belum Berjilbab, Karena...


“Aku Belum Berjilbab, Karena

1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”

Wahai saudariku Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?


“Aku Belum Berjilbab, Karena” 

2. Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”

Duhai saudarikuTahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?


“Aku Belum Berjilbab, Karena

3. Aku kan masih muda

Saudariku tercinta Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? 
Belumkah sampai padamu firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,

“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Muminuun: 114)

“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)

 Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat

“Aku Belum Berjilbab, Karena

4. Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”

Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun ? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?

Pikirkanlah hal ini baik-baik!

“Aku Belum Berjilbab, Karena

5. Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.

Saudariku Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,


“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.'” (Qs. At-Taubah: 81)


Dan sabda Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]

Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri


“Aku Belum Berjilbab, Karena

6. Jilbab bikin rambutku jadi rontok

Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,


“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.


Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)


“Aku Belum Berjilbab, Karena

7. Jilbab itu pilihan. Yang penting akhlaknya saja benar.

Jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.

Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?

Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]


“Aku Belum Berjilbab, Karena

8. Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.
Saudariku

Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapunhidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.

Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”



Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah
***
For Download :
Sumber : Artikel Muslimah
Deisgn by : LDK ASSALAM

Hijab Bagi Muslimah

Oleh: Nurfitriyani Barokah Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kehi...